
UPAYA Presiden Donald Trump untuk merehabilitasi posisi Rusia di kancah diplomatik internasional semakin intensif dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ini mencerminkan keinginan kuat Trump untuk menormalisasi hubungan dengan Moskow, meskipun hal tersebut berisiko memperlemah posisi Ukraina dalam mempertahankan kedaulatannya.
Trump mengambil serangkaian langkah konkret yang menunjukkan pergeseran arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia mengabaikan undang-undang bipartisan yang baru ditandatangani mengenai tarif baru bagi Rusia, menyepakati pembelian diesel dari Moskow, hingga membuka jalan bagi kesepakatan bisnis dengan Lukoil, perusahaan energi Rusia.
Di saat yang sama, Trump secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Ia menganggap Zelensky sebagai hambatan utama menuju perdamaian.
Retorika Trump dan Pengabaian Konflik
Dalam pernyataannya kepada wartawan pada Senin (19/10) waktu setempat, Trump mengeklaim bahwa Rusia telah bersikap baik-baik saja terkait Ukraina. “Mereka tidak melakukan banyak hal,” ujar Trump, tanpa menyinggung serangan rudal dan pesawat nirawak Rusia yang terus menghantam infrastruktur sipil dan jaringan listrik di Kyiv.
Sebaliknya, Trump justru menyalahkan Zelensky atas berlanjutnya perang. Melalui media sosial, ia menuduh Zelensky tidak pernah benar-benar ingin mengakhiri konflik karena aliran bantuan senjata dan dana dari Eropa terus mengalir.
Trump menegaskan bahwa AS telah memberi banyak kepada Ukraina. Namun, Ukraina dianggap tidak memberikan imbal balik apa pun kepada Washington.
Misi Diplomatik di Oslo dan St. Petersburg
Tekanan terhadap Ukraina diperkirakan akan memuncak dalam pertemuan di Oslo pada Selasa (20/10). Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dijadwalkan bertemu dengan Zelensky untuk menyampaikan pesan Washington. Jared Kushner, menantu Trump, juga dilaporkan akan berpartisipasi dalam pertemuan tersebut secara jarak jauh.
Setelah dari Oslo, Witkoff dan Kushner dijadwalkan terbang ke St. Petersburg untuk bertemu Vladimir Putin. Salah satu agenda utama dalam pertemuan di Rusia ialah mengamankan pembebasan warga negara Amerika yang ditahan, kemungkinan besar Stephen Hubbard, seorang pria berusia 70-an yang dituduh Rusia sebagai tentara bayaran untuk Ukraina.
Analisis Strategis: Pembebasan sandera di tengah periode pemilu sela di AS memberikan keuntungan politik bagi Trump untuk memperkuat narasi kebijakan America First. Bagi Putin, hal ini merupakan langkah murah untuk menormalisasi hubungan tanpa harus menghentikan agresi di Ukraina.
Visi Global: Aliansi Tiga Kekuatan Nuklir
Ambisi Trump tampaknya melampaui sekadar penyelesaian konflik Ukraina. Muncul wacana mengenai pertemuan trilateral antara Trump, Putin, dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di sela-sela KTT Pasifik bulan depan. Fokus utama yang diusung ialah pembahasan mengenai persenjataan nuklir dan kontrol senjata.
Bagi Putin, perluasan diskusi ke topik global lain ialah strategi untuk mengaburkan konflik Ukraina sebagai salah satu isu manajerial biasa. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa para pemimpin kekuatan besar sedang mencoba membagi dunia ke dalam zona pengaruh, serupa dengan kesepakatan Yalta pasca-Perang Dunia II.
Ukraina di Titik Nadir
Perubahan sikap AS ini menempatkan Ukraina dalam posisi yang sangat sulit. Zelensky, yang sebelumnya mendapatkan dukungan penuh dari Kongres AS, kini mengakui bahwa peluang negaranya untuk bertahan hidup sangat rendah tanpa dukungan militer dan intelijen Amerika.
Richard Haass, diplomat veteran AS, menyebut langkah ini sebagai preseden yang belum pernah terjadi. “Keputusan untuk berbalik arah dan menghukum korban invasi–Ukraina–sambil memberi imbalan kepada agresor ialah hal yang tidak memiliki tandingan dalam sejarah modern diplomasi Amerika,” tegasnya.
Kini, bola panas berada di tangan Zelensky. Administrasi Trump menuntut agar Ukraina membuktikan kesediaannya untuk bernegosiasi dengan Rusia, bahkan jika itu berarti harus merelakan wilayah kedaulatan mereka demi tercapai kesepakatan damai yang diinginkan Washington dan Moskow. (New York Times/I-2)
