
RAJA Charles III menyambut kedatangan Sultan Oman, Haitham bin Tarik Al Said, dalam sebuah perjamuan kenegaraan di St George’s Hall, Windsor Castle. Dalam acara yang berlangsung hangat tersebut, Raja Charles III sempat menyelipkan bahasa Arab saat menyampaikan pidato penyambutannya.
Oman merupakan salah satu mitra kunci Inggris di Timur Tengah yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz. Kunjungan kenegaraan ini menjadi momen penting bagi kedua negara untuk mempererat hubungan diplomatik, ekonomi, dan militer di tengah situasi kawasan yang sensitif.
Dalam pidatonya di hadapan 160 tamu undangan, Raja Charles III memuji peran Oman yang dinilai konsisten menjaga stabilitas kawasan. Ia mengapresiasi “upaya mulia dalam berusaha menjaga agar salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia tetap terbuka.”
Raja Charles III juga menyoroti mediasi diplomatik Oman terkait konflik dengan Iran demi menemukan titik temu. Jalur pelayaran Selat Hormuz sendiri mengalami gangguan signifikan pasca serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Februari lalu yang memicu konflik lanjutan di kawasan tersebut.
Tak hanya membahas geopolitik, Raja Charles III mengekspresikan rasa bangganya atas hubungan antargenerasi kedua negara. Ia mengungkit kerja sama antara putranya, Pangeran William, dengan putra Sultan Oman dalam sebuah proyek ekspedisi.
“Tidak ada simbol keberhasilan yang lebih membahagiakan daripada hubungan hidup yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” ujar Raja Charles III.
Menanggapi penyambutan tersebut, Sultan Haitham menegaskan komitmen negaranya terhadap perdamaian dunia. Sultan Oman menyatakan negaranya “mencari solusi… kami percaya pada dialog.”
Acara ini dihadiri oleh jajaran senior keluarga kerajaan Inggris, seperti Ratu Camilla, Pangeran William, Putri Catherine, dan Putri Anne. Perjamuan ini juga menjadi acara kenegaraan pertama bagi Perdana Menteri Andy Burnham, yang duduk berdampingan dengan akademisi sekaligus novelis asal Oman, Jokha Alharthi.
Adapun Pangeran Harry tidak hadir dalam perjamuan resmi ini karena statusnya yang bukan lagi anggota aktif keluarga kerajaan. Di saat bersamaan, pernyataan Harry dalam wawancara dengan majalah GQ di New York mengenai keinginannya untuk berdamai dengan keluarga kerajaan sempat menyita perhatian publik. “Beberapa orang tidak ingin ini berhasil. Saya ingin ini berhasil. Dengan semua yang terjadi di dunia, hal terpenting adalah berdamai – itulah poin kuncinya,” tutur Pangeran Harry.
Keanggunan Perjamuan di St George’s Hall
Rangkaian kunjungan kenegaraan diawali dengan sambutan formal oleh Raja dan Ratu pada siang hari yang sejuk, dilanjutkan dengan prosesi kereta kencana menuju Windsor Castle.
Di dalam St George’s Hall, suasana perjamuan tampak megah dengan hiasan tempat lilin yang anggun serta dekorasi buah delima hasil panen kebun Windsor Castle. Sebagai bentuk penghormatan kepada tamu utama yang beragama Islam, koktail tradisional diganti dengan minuman kopi berempah tanpa alkohol.
Para tamu disuguhkan hidangan spesial yang memadukan bahan lokal berkualitas tinggi:
- Hidangan Pembuka: Croute udang karang Skotlandia dan kepiting Cornish dengan alpukat, konsome tomat, serta seledri.
- Hidangan Utama: Daging burung kuau (pheasant) Windsor panggang dengan buah kuini berempah, kubis isi, dan kentang fondant rebus dalam saus mustard Dijon, disajikan bersama aneka sayuran musim panas.
- Hidangan Penutup: Baked Alaska porsi individu dengan buah plum Balmoral dan es krim madu dari kawasan perkebunan Windsor.
Kunjungan kenegaraan Oman tidak berhenti pada acara perjamuan malam. Selanjutnya, Sultan Oman dijadwalkan menuju Downing Street untuk melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Inggris guna membahas kerja sama bisnis dan pertahanan yang lebih mendalam. (BBC/Z-2)
