
TRADISI Tapa Bisu Lampah Budaya Mubeng Beteng, biasa dilakukan oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta bersama masyarakat setiap tahunnya. Ritual ini memperingati Malam 1 Suro. Untuk tahun ini, Tapa Bisu Lampah Budaya Mubeng Beteng 1 Sura 1960 Be, dalam penanggalan Jawa Keraton akan dilaksanakan pada pergantian hari (16-17/6).
Ketua Paguyuban Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Kusumanegara menjelaskan, ritual ini sepenuhnya merupakan hajat kawula dalem sebuah hajat atau inisiatif yang lahir dari rakyat, oleh rakyat, dan didukung penuh oleh Keraton yang meminjamkan berbagai fasilitas prosesi.
Bagi KRT Kusumonegoro, esensi Mubeng Beteng (mengelilingi benteng) memiliki dimensi spiritual yang sangat dalam bagi tiap individu. Tradisi ini bukan sekadar jalan kaki, melainkan jembatan introspeksi
“Tradisi tersebut mengandung pesan untuk menjaga benteng dalam diri manusia, seperti benteng keimanan, akhlak, dan aturan yang membatasi agar tidak menyimpang dari jalan yang semestinya,” ungkap dia.
Di sepanjang rute, setiap peserta diajak untuk memutar kembali memori satu tahun ke belakang dan merajut doa-doa baru agar tahun depan langkah kaki menjadi lebih terarah memperingati malam 1 Suro. Laku ini akan menempuh rute historis yang mengitari dinding-dinding kokoh pertahanan Keraton, yaitu dimulai dari titik awal: Pelataran Keben, menuju arah Ngabean, melintasi Pojok Beteng Kulon, berjalan lurus ke Plengkung Gading, menuju Pojok Beteng Wetan, melalui Jalan Ibu Ruswo, memasuki kawasan Alun-Alun Utara, dan mencapai titik akhir: kembali ke Keben. Dalam rangka Mangayubagya Warsa Enggal Be 1960 di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat beberapa ragam agenda yakni Pergelaran Ringgit Wacucal Gedhog Cariyos Panji Lampahan ‘Jaya Berdangga pada 16 Juni 2026 pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB, Hajad Kawula Dalem – Lampah Budaya Mubeng Beteng pada Selasa (16/6) pukul 23.30 sampai Rabu (17/6) dini hari, dan Hajad Dalem Jamasan Pusaka & Rata Selasa- Rabu (7-8/6) tertutup untuk umum. (H-4)
