Gencatan Senjata Maya: Mengapa Perang di Gaza, Libanon, dan Iran Terus Membara?
Ilustrasi.(Magnific)

GENCATAN senjata di Gaza, Libanon, dan Iran sering kali diumumkan dengan gegap gempita. Namun, realitas di lapangan menunjukkan kontradiksi yang tajam: mengapa pertempuran justru semakin sengit? Dalam beberapa pekan terakhir, istilah gencatan senjata tampaknya mulai kehilangan makna fungsionalnya bagi para pihak yang bertikai.

Di Gaza, pasukan Israel terus memperluas wilayah pendudukan dan berhasil menewaskan dua petinggi Hamas serta belasan lainnya. Sementara itu, di Libanon, serangan udara Israel di wilayah selatan pada Rabu (10/6) menewaskan sedikitnya 13 orang. Hizbullah membalas dengan serangan baru terhadap posisi militer Israel, menandakan bahwa kesepakatan damai di atas kertas tidak menghentikan pertumpahan darah di lapangan.

Eskalasi di Libanon Selatan

Gencatan senjata Libanon yang dicapai pada April lalu terbukti memiliki dampak minimal. Israel justru memperdalam infiltrasinya dengan mengibarkan bendera di Kastil Beaufort, menandai ekspansi terdalam mereka ke Libanon selatan sejak berakhirnya pendudukan tahun 2000. Sebagai respons, Hizbullah meluncurkan serangan roket lebih jauh ke wilayah utara Israel.

Israel menegaskan tidak akan berhenti berperang hingga ancaman roket dan drone dari perbatasan utara dieliminasi sepenuhnya. Di sisi lain, Hizbullah menuntut penarikan total pasukan Israel sebagai syarat kepatuhan terhadap gencatan senjata. Ketegangan ini diperumit oleh tuntutan Iran yang menginginkan gencatan senjata di Libanon menjadi bagian tak terpisahkan dari kesepakatan trilateral dengan Amerika Serikat.

Krisis Selat Hormuz: Iran tetap mempertahankan blokade di Selat Hormuz, memicu krisis bahan bakar global. Sebagai balasan, AS memperketat blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Konfrontasi Langsung AS dan Iran

Hubungan antara Washington dan Teheran berada pada titik nadir. Pada Kamis (11/6), Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling serang melalui udara. Presiden Donald Trump mengancam akan meluncurkan serangan lebih masif jika Teheran tidak segera menyetujui kesepakatan damai yang mencakup konsesi besar pada program nuklirnya.

Data terbaru menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan:

  • Serangan Tomahawk: AS meluncurkan 49 rudal Tomahawk ke sasaran militer di Iran, termasuk situs pengawasan dan pertahanan udara.
  • Balasan Iran: Teheran menargetkan 18 pangkalan udara AS di kawasan Teluk, memaksa Kuwait menutup ruang udaranya dan Bahrain membunyikan sirene peringatan udara.
  • Pemicu Terbaru: Eskalasi dipicu oleh jatuhnya helikopter Apache milik AS di dekat Selat Hormuz awal pekan ini, yang memicu serangan balasan berantai.

Diplomasi yang Buntu

Meskipun kedua belah pihak sempat terlihat hampir mencapai kesepakatan bulan lalu, negosiasi kini menemui jalan buntu. Trump menuntut Iran menyerahkan stok uranium yang diperkaya tinggi, sementara Iran menolak berdiskusi mengenai isu nuklir sebelum blokade laut dan sanksi ekonomi dicabut sepenuhnya.

Dengan tidak ada pihak yang secara resmi menyatakan keluar dari kesepakatan gencatan senjata, dunia kini menyaksikan fenomena perang dalam gencatan senjata. Selama kepentingan strategis dan tuntutan keamanan masing-masing pihak tidak terpenuhi, pengumuman damai di meja diplomasi kemungkinan besar akan terus dikhianati oleh dentuman meriam di medan tempur. (The Independent/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *