BPBD Cimahi Antisipasi Krisis Air Bersih, 312 RW Berpotensi Terdampak Kekeringan
Petani menyiram tanaman saat musim kemarau.(MI/Depi Gunawan)

KEKERINGAN dan krisis air bersih mengancam warga Kota Cimahi saat musim kemarau panjang. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah menyiapkan berbagai skema penanganan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan mengatakan, sedikitnya 312 RW yang tersebar di seluruh kelurahan diprediksi berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun ini.

“Jika melihat potensinya, seluruh kelurahan di Kota Cimahi terancam mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026,” kata Fithriandy, Rabu (3/6).

Ia menjelaskan, berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) yang disusun dua tahun lalu, dampak kemarau panjang paling parah terjadi di wilayah Cimahi Selatan, meliputi Kelurahan Melong, Utama, hingga Leuwigajah.

Menurutnya, krisis air bersih di wilayah tersebut disebabkan karena sebagian warga masih mengandalkan pasokan air dari PDAM dan sumber air tanah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, ketersediaan air tanah dan sumur milik warga juga mengalami penurunan muka air. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pasokan air bersih saat musim kemarau mencapai puncaknya.

“Mayoritas warga di wilayah itu mengandalkan sumur sebagai sumber air. Ketika musim kemarau tiba, mereka kerap mengalami kesulitan mendapatkan air bersih,” ujarnya.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, BPBD akan berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait, di antaranya Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) serta Perumda Tirta Raharja.

“Apabila ada laporan kekurangan air bersih dari masyarakat, kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk DPKP, untuk memasok kebutuhan air bersih,” tambah Fithriandy. (DG)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *