
FENOMENA kelelahan bekerja atau burnout kian menjadi perhatian serius di dunia kerja modern. Dokter spesialis kejiwaan (psikiater) dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Adhitya S Ramadianto, SpKJ(K), mengungkapkan tiga gejala utama yang menandai seorang pekerja mulai terjebak dalam kondisi ini.
Menurut dr. Adhitya, burnout bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan kondisi yang terbagi ke dalam tiga kategori besar yang memengaruhi kesehatan mental dan produktivitas seseorang.
1. Emotional Exhaustion (Kelelahan Emosional)
Gejala pertama yang paling sering muncul adalah emotional exhaustion. Kondisi ini membuat pekerja merasa energinya terkuras habis bahkan sebelum memulai hari. Perasaan enggan untuk bangun pagi dan kecemasan saat mengingat tumpukan pekerjaan menjadi indikator kuat.
“Enggak punya tenaga, enggak mau bangun, mendingan merem lagi. Sampai di tempat kerja sudah membayangkan kapan bisa pulang,” ujar dr. Adhitya di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Ia menambahkan bahwa rasa lelah ini sering kali tidak proporsional. Pekerja merasa sangat kelelahan meskipun beban kerja yang dihadapi sebenarnya masih dalam batas normal.
2. Depersonalisasi
Gejala kedua adalah depersonalisasi, yakni kondisi di mana seseorang tidak lagi hadir sepenuhnya secara mental dalam pekerjaannya. Hal ini sering dialami oleh profesi yang berbasis jasa atau banyak berinteraksi dengan orang lain, seperti tenaga kesehatan dan petugas layanan konsumen.
Akibat kelelahan mental yang ekstrem, pekerja cenderung menganggap orang yang dilayaninya hanya sebagai objek atau tugas yang harus cepat selesai. “Mungkin bukan karena berniat jahat, tapi energinya sudah habis, cuma tersisa untuk mengerjakan tugas sebisanya,” jelasnya. Dampaknya, pekerja bisa menjadi kurang ramah atau tampak tidak peduli.
3. Lack of Personal Achievement (Minim Pencapaian Pribadi)
Gejala ketiga ditandai dengan hilangnya rasa puas atau bangga terhadap hasil kerja sendiri. Meskipun telah menghabiskan waktu berjam-jam di kantor, pekerja merasa tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lelah.
Kondisi ini menciptakan perasaan tidak nyaman yang terus bertumbuh karena pekerja merasa usahanya tidak membuahkan hasil yang berarti, baik secara finansial maupun kepuasan batin.
Strategi Mengatasi Burnout:
- Work-Life Balance: Menjaga keseimbangan antara tuntutan profesional dan kehidupan sosial.
- Quiet Living: Menerapkan gaya hidup yang memprioritaskan ketenangan mental.
- Evaluasi Akar Masalah: Jika burnout disebabkan oleh ketidaksesuaian skill, solusinya adalah pengembangan kompetensi atau negosiasi ulang peran di perusahaan, bukan sekadar liburan.
Dr. Adhitya menekankan bahwa efektivitas pemulihan sangat bergantung pada sumber masalahnya. Jika kelelahan dipicu oleh periode kerja yang padat, istirahat atau liburan adalah solusi tepat. Namun, jika masalahnya adalah kompetensi, maka peningkatan kemampuan menjadi kunci utama untuk meredam stres di tempat kerja. (Ant/H-3)
