
BAGI banyak anak, hari terakhir sekolah adalah momen yang paling ditunggu-tunggu dengan penuh suka cita. Namun, bagi sebagian lainnya, momen ini justru memicu rasa sedih mendalam hingga air mata. Fenomena ini dikenal sebagai end-of-school-year blues atau kesedihan akhir tahun ajaran.
Rasa kehilangan saat sekolah berakhir ternyata cukup umum terjadi. Sifat anak yang mudah terikat dengan guru dan teman, atau merasa cemas terhadap perubahan, dipengaruhi oleh beberapa faktor utama.
Mengapa Anak Merasa Sedih?
Menurut Amanda Gummer, PhD, pakar perkembangan anak sekaligus pendiri dan CEO Good Play Guide, ada empat faktor utama yang memicu kondisi ini:
- Kepribadian: Beberapa anak secara alami memiliki kepekaan emosional yang tinggi, sehingga lebih mudah membentuk ikatan emosional yang kuat.
- Pengalaman Masa Lalu: Anak-anak yang pernah mengalami ketidakstabilan atau kehilangan dalam hidupnya cenderung membutuhkan rasa aman yang lebih besar. Hal ini membuat mereka sangat terikat pada rutinitas yang sudah akrab.
- Keterampilan Sosial: Anak yang kesulitan mencari teman baru akan sangat bergantung pada hubungan yang sudah ada dengan guru dan teman sekelasnya.
- Lingkungan Rumah: Rumah yang penuh tekanan bisa memperburuk rasa tidak aman anak.
“Terutama bagi anak-anak yang membutuhkan, sekolah adalah lingkungan yang aman dan stabil, dan kehilangan hal ini dapat menyebabkan kecemasan, stres, dan kesedihan,” tambah Pamela Mastrota, direktur eksekutif The Toy Foundation.
Cara Membantu Anak Menghadapi Kesedihan
Jika anak Anda mulai menunjukkan gejala ini menjelang akhir tahun ajaran, Dr. Gummer menyarankan orangtua untuk memvalidasi emosi mereka terlebih dahulu.
“Validasi emosi anak Anda dengan mengakui bahwa adalah hal yang normal untuk merasa sedih atau cemas tentang akhir tahun sekolah,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Dorong mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui percakapan, menggambar, menulis, atau bermain peran.”
Selain itu, mengajak anak melakukan aktivitas yang mereka sukai bisa membantu mereka memproses emosi. Mastrota menjelaskan memberikan waktu bermain setiap hari di lingkungan yang aman terbukti secara klinis dapat membantu anak mengatasi dan mengomunikasikan perasaan mereka.
Dr. Gummer membagikan beberapa strategi tambahan untuk membantu anak mengatasi perubahan besar ini:
- Tetap menjaga rutinitas harian.
- Menjaga komunikasi dengan guru dan teman sekelas sebisa mungkin.
- Membicarakan hal-hal positif tentang tahun ajaran berikutnya.
- Menikmati liburan musim panas.
Kapan Harus Waspada?
Meskipun sedih di akhir sekolah adalah hal yang wajar, orangtua tetap harus memperhatikan tanda-tanda jika anak membutuhkan bantuan profesional.
“Meskipun normal bagi anak-anak untuk merasa agak sedih di akhir tahun sekolah, tanda-tanda tertentu dapat menunjukkan mereka membutuhkan dukungan tambahan,” kata Dr. Gummer.
Waspadai jika anak mengalami kesedihan yang terus-menerus, menarik diri dalam jangka waktu lama, kehilangan minat pada aktivitas atau teman, sering menangis, atau mengalami perubahan pola tidur dan makan yang drastis. Keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut tanpa penyebab medis yang jelas juga menjadi lampu kuning bahwa anak Anda mungkin membutuhkan bantuan dari penyedia layanan kesehatan. (Parents/Z-2)
