
INDONESIA tercatat menjadi habitat bagi 13 spesies kuda laut yang tersebar di berbagai wilayah perairan nasional. Namun, keberadaan kuda laut tersebut kini menghadapi ancaman serius akibat perdagangan, minimnya data pemanfaatan, hingga kerusakan habitat pesisir.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Masayu Rahmia Anwar Putri, mengatakan jumlah spesies kuda laut di Indonesia masih berpotensi bertambah seiring perkembangan penelitian dan penemuan spesies baru.
“Di Indonesia ada 13 spesies kuda laut, tapi itu saat ini. Seiring berjalannya waktu bisa terus bertambah,” ujar Masayu, Senin (18/5).
Menurut dia, sejumlah spesies kuda laut di Indonesia kini masuk kategori terancam berdasarkan tingkat keterancaman global maupun nasional, mulai dari critically endangered, endangered, hingga vulnerable.
Masayu menilai salah satu tantangan utama dalam pengelolaan kuda laut adalah minimnya pelaporan terkait pemanfaatan dan perdagangan. Akibatnya, kondisi populasi kuda laut di alam sulit dipantau secara akurat.
Ia menjelaskan, perdagangan kuda laut ke luar negeri harus disertai dokumen Non-Detriment Findings (NDF) untuk memastikan pemanfaatannya tidak mengancam populasi di habitat alami.
“Kalau pemanfaatan dan perdagangan tidak dilaporkan, kita tidak mengetahui kondisi populasi sebenarnya,” katanya.
Selain perdagangan, kerusakan habitat pesisir seperti lamun dan makroalga juga menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup kuda laut. Satwa ini bergantung pada habitat tersebut untuk bertahan karena bukan perenang yang kuat.
“Kuda laut biasa mengaitkan ekornya pada lamun, alga, atau terumbu karang. Ketika habitatnya terganggu, mereka akan kesulitan bertahan hidup,” ujarnya.
Masayu juga menyoroti tingginya pemanfaatan kuda laut kering sebagai bahan obat tradisional dan suvenir. Nilai ekonomi yang tinggi membuat eksploitasi terus terjadi, dengan harga jual mencapai Rp1 juta hingga Rp8 juta per kilogram. Dalam satu kilogram, terdapat ratusan hingga ribuan ekor kuda laut, tergantung ukuran spesiesnya.
“Bayangkan kalau satu kampung mengambil kuda laut semua, kita tidak akan menemukannya lagi di daerah tersebut,” ucapnya.
Masayu turut menjelaskan keunikan biologis kuda laut, salah satunya adalah peran jantan yang mengandung dan melahirkan anak. Telur dari betina dipindahkan ke kantong tubuh jantan untuk dierami selama sekitar satu hingga dua bulan sebelum dilahirkan.
“Di dalam kantong itu, embrio diberi oksigen dan diatur kadar garamnya sampai siap dilahirkan,” jelasnya.
BRIN saat ini bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam memberikan rekomendasi kuota pemanfaatan kuda laut untuk kebutuhan perdagangan, penelitian, dan indukan budi daya.
Selain itu, BRIN juga menyusun pedoman translokasi dan restocking, serta mendukung penyusunan rencana aksi nasional pengelolaan kuda laut berkelanjutan.
Masayu menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat pesisir dalam menjaga populasi kuda laut, mulai dari melaporkan tangkapan hingga menjaga habitat alami.
“Kalau masyarakat pesisir tidak mau berkontribusi, kita tidak bisa mendapatkan data yang sebenarnya,” katanya. (H-3)
