
FILM terbaru karya sutradara Joko Anwar, Ghost in The Cell, tidak hanya menawarkan ketegangan horor, tetapi juga kritik sosial yang tajam melalui enam instalasi seni mengerikan atau macabre art. Karya-karya ini kini dibawa keluar dari layar bioskop ke ruang publik melalui pameran di Jakarta.
Rumah produksi Come and See Pictures menggelar Macabre Art Installation Ghost in The Cell di Nirmana Falatehan, Jakarta Selatan. Pameran ini berlangsung mulai 16 hingga 22 Mei 2026, dan terbuka untuk umum setiap hari pukul 10.00 hingga 20.00 WIB.
Keenam karya seni ini merupakan interpretasi visual mengenai kematian dan siksaan yang merefleksikan berbagai isu sosial di Indonesia. Berikut adalah makna mendalam di balik enam macabre art tersebut:
1. Lady Justice: Distorsi Hukum
Terinspirasi dari dewi keadilan Yunani, Themis, karya ini menampilkan tubuh manusia yang dibentuk menjadi figur “Lady Justice”. Namun, keadilan di sini digambarkan buta dan tuli secara harfiah; mata dan telinga diletakkan di atas timbangan untuk menimbang kepentingan, bukan kebenaran. Dengan pedang dari uang kertas, karya ini menyentuh isu sistem hukum yang kehilangan moralitas dan hanya berpihak pada kekuasaan serta materi.
2. Flood Light: Eksploitasi Perhatian
Menampilkan tubuh manusia yang digantung dengan senter besar di kepala. Karya ini merepresentasikan bagaimana manusia modern sering kali dikorbankan demi kepentingan institusi atau figur berkuasa agar tetap “bersinar”. Manusia kehilangan identitasnya dan hanya dianggap sebagai alat untuk menarik perhatian publik.
3. The Dancer: Tuntutan Citra Sosial
Dari jauh tampak seperti penari balet yang elegan, namun dari dekat terlihat dibangun dari luka dan daging terbuka. The Dancer menyindir tekanan sosial yang memaksa individu untuk tetap tampil sempurna dan “menari” di tengah sistem yang brutal, meski jiwa dan raganya telah hancur.
“Itu adalah karya seni yang dihadirkan sebagai interpretasi visual mengenai kematian dan siksaan yang diangkat langsung dari film tersebut,” ujar Joko Anwar mengenai kehadiran instalasi ini.
4. The Stove: Manusia sebagai Bahan Bakar
Instalasi ini menyusun organ dan tulang manusia menyerupai kompor. Ini adalah metafora bagi sistem sosial yang membutuhkan pengorbanan pihak yang lemah agar pihak yang kuat tetap bisa bertahan hidup dan menikmati kenyamanan. Manusia diperlakukan sebagai komoditas dan bahan bakar demi status kekuasaan.
5. Shower Head: Pencucian Dosa yang Semu
Tubuh manusia yang diubah menjadi sistem perpipaan shower ini berbicara tentang rasa bersalah. Ini menyindir mereka yang percaya bahwa ritual formal, uang, atau kekuasaan dapat menghapus dosa dan tanggung jawab moral, padahal kekerasan yang dilakukan tetap meninggalkan jejak yang membusuk.
6. The Fan: Siklus Kekerasan yang Berulang
Berbentuk kipas angin langit-langit dari potongan tubuh, karya ini melambangkan siklus kekerasan, korupsi, dan eksploitasi yang terus berputar di masyarakat. Hal-hal mengerikan tersebut sering kali dinormalisasi dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa pernah benar-benar berhenti.
Bagi para pencinta film dan penikmat seni, instalasi ini memberikan kesempatan untuk menyelami lebih dalam pesan moral yang ingin disampaikan Joko Anwar dalam Ghost in The Cell sebelum pameran berakhir pada 22 Mei mendatang. (Z-10)
