Komisi X DPR Desak Evaluasi Total Penjurian LCC Empat Pilar usai Polemik Nilai
Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarief Muhammad mendesak evaluasi total mekanisme penjurian LCC Empat Pilar setelah muncul polemik penilaian di Kalimantan Barat.(DPR)

ANGGOTA Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Habib Syarief Muhammad, mendesak Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI untuk melakukan evaluasi total terhadap mekanisme penjurian Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar. Desakan ini merupakan buntut dari polemik penilaian pada final tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang dinilai tidak konsisten dan mencederai rasa keadilan siswa.

Habib menyatakan keprihatinannya atas insiden di mana dewan juri memberikan nilai yang berbeda terhadap dua jawaban yang secara substansi identik dari sekolah yang berbeda.

“Adanya perbedaan penilaian terhadap jawaban yang sama menunjukkan mekanisme penjurian perlu dievaluasi total. Kami berharap ini menjadi insiden terakhir. Sistem penilaian harus objektif, adil, dan transparan agar kredibilitas lomba tetap terjaga,” ujar Habib di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Polemik tersebut mencuat saat Grup C dari SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan terkait prosedur pemilihan anggota BPK, namun justru diganjar nilai minus lima oleh juri. Sementara itu, Grup B dari SMAN 1 Sambas yang memberikan jawaban dengan substansi serupa justru mendapatkan nilai sempurna 10.

Juri berdalih bahwa Grup C tidak menyebutkan keterlibatan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) secara jelas, sebuah klaim yang dibantah keras oleh peserta dan saksi di lokasi. Menurut Habib, kejadian ini menunjukkan adanya celah dalam standar operasional penilaian yang harus segera dibenahi.

Untuk mencegah sengketa dan kesalahan di masa mendatang, legislator asal Jawa Barat ini mengusulkan dua terobosan teknis yang wajib diterapkan panitia. Pertama, juri disarankan menggunakan headset atau earphone berkualitas tinggi guna memastikan setiap kata yang diucapkan peserta terdengar presisi, terutama dalam sesi rebutan yang bertempo cepat. Kedua, seluruh sesi lomba wajib didokumentasikan dengan rekaman audio-visual yang berkualitas sebagai bukti otentik.

“Kalau ada perdebatan, rekaman audio bisa diputar ulang. Ini penting demi akuntabilitas penilaian. Evaluasi pasca-seleksi juga penting untuk memastikan tidak ada kesalahan pendengaran atau persepsi juri yang merugikan siswa,” tegas Habib.

Lebih lanjut, Habib memberikan apresiasi terhadap keberanian para peserta yang berani menyampaikan protes secara kritis dan santun. Ia menilai daya pikir kritis dan analitis tersebut merupakan bukti keberhasilan internalisasi nilai-nilai Empat Pilar kebangsaan dalam diri siswa.

“Sikap kritis mereka adalah cerminan pemahaman bernegara yang baik. Saya berharap insiden ini tidak memadamkan semangat generasi muda untuk terus mendalami Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi bernegara,” pungkasnya. (Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *