
KEJATUHAN Spirit Airlines baru-baru ini memberikan sorotan tajam terhadap masa depan rival utamanya di kategori maskapai berbiaya rendah (ultra-low-cost carrier/ULCC), Frontier Airlines. Frontier kini menghadapi tantangan serupa yang sebelumnya melumpuhkan Spirit.
Lonjakan harga bahan bakar jet menjadi pukulan terakhir bagi Spirit yang resmi menghentikan operasionalnya pada Sabtu (4/5/2026). Situasi ini kini menjadi ancaman serius bagi Frontier yang memiliki model bisnis hampir identik.
Ujian Bagi Model Bisnis ULCC
Identitas Frontier sebagai maskapai berbiaya rendah sangat melekat, bahkan tercermin dalam kode sahamnya, ULCC. Namun, maskapai besar yang lebih sehat secara finansial mulai merebut pangsa pasar pelancong hemat.
“Frontier mungkin menjadi ujian terakhir yang paling jelas mengenai apakah model maskapai berbiaya rendah ini dapat bertahan atau tidak,” ujar Shye Gilad, profesor bisnis Universitas Georgetown sekaligus eksekutif penerbangan. Menurutnya, model bisnis ini sedang berada di bawah tekanan besar.
Runtuhnya Spirit memberikan ruang bagi Frontier untuk berekspansi. Frontier memiliki rute yang tumpang tindih dengan Spirit sekitar 30%. CEO Frontier, Jimmy Dempsey, memproyeksikan kenaikan pendapatan per kursi (RASM) sebesar 3% hingga 5% pascahilangnya kompetitor utama mereka.
Ekspansi Rute dan Kinerja Keuangan
Frontier bergerak cepat dengan memperluas layanan ke sembilan rute tambahan yang sebelumnya dilayani Spirit. Mereka juga menambah 15 keberangkatan harian di 18 rute yang sudah ada, termasuk ke destinasi utama seperti Las Vegas, Dallas-Fort Worth, Fort Lauderdale, dan Detroit.
Berdasarkan data kuartal pertama tahun 2026, Frontier mencatatkan rekor pendapatan sebesar US$1,1 miliar atau sekitar Rp18,7 triliun, naik 17% dibandingkan tahun sebelumnya. Investor merespons positif kabar ini dengan kenaikan saham Frontier sebesar 6,9% pada Selasa lalu.
Tantangan: Pendapatan Rekor, tapi Tetap Rugi
Meski mencetak rekor pendapatan dan tingkat keterisian pesawat yang tinggi, Frontier masih berjuang untuk mencetak laba. Beberapa faktor penghambat utamanya adalah:
- Kenaikan Biaya Tenaga Kerja: Tekanan upah yang terus meningkat di industri penerbangan.
- Persaingan Maskapai Besar: Maskapai full-service kini lebih agresif menawarkan tarif rendah di kelas ekonomi sambil tetap meraup untung besar dari kabin premium.
- Harga Bahan Bakar: Lonjakan harga bahan bakar jet akibat ketegangan geopolitik (perang Iran) menghapus margin keuntungan yang sudah sangat tipis.
Sebelum lonjakan harga bahan bakar, Frontier memperkirakan akan mencapai titik impas (break even) pada kuartal pertama dan mencetak laba pada kuartal kedua. Namun, kini perusahaan diprediksi akan terus mengalami kerugian karena hanya mampu menutupi sekitar 35% hingga 45% dari kenaikan biaya bahan bakar tersebut.
| Indikator | Status/Angka |
|---|---|
| Pendapatan Q1 2026 | US$1,1 Miliar (Rekor) |
| Kenaikan Saham | 6,9% |
| Kapitalisasi Pasar | Sekitar US$1 Miliar |
Kesimpulan
Frontier saat ini berada dalam posisi bertahan sekaligus menyerang. Meskipun mereka mendapatkan durian runtuh dari bangkrutnya Spirit Airlines, tantangan struktural dalam model bisnis ULCC tetap nyata. Tanpa margin kesalahan yang tersisa, Frontier harus bekerja ekstra keras untuk tidak mengikuti jejak rivalnya yang telah gugur. (Axios/I-2)
