Iran Sebut Ancaman Trump sebagai Keputusasaan Akut, Kelelahan Milter AS
Ilustrasi.(Magnific)

MILITER Iran pada Rabu (23/9/2026) menanggapi ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghancurkan Teheran sebagai tanda keputusasaan akut. Iran memperingatkan bahwa mereka siap melancarkan serangan yang lebih menghancurkan dibandingkan fase awal konflik yang telah berlangsung selama hampir tujuh bulan tersebut.

Pesan konfrontatif yang disiarkan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, menuduh Trump menggunakan podium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membenarkan agresi. Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran menyatakan bahwa ancaman berulang tersebut mencerminkan jalan buntu strategis Amerika di tengah kelelahan militer mereka.

Ancaman Trump di Sidang Umum PBB

Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB (UNGA) pada Selasa, Trump menyatakan dirinya menghadapi pilihan antara kesepakatan atau tindakan militer yang lebih agresif. “Apakah kesepakatan akan dibuat dengan Iran? Atau haruskah saya memusnahkan Republik Islam, dan melakukannya dengan cepat?” ujar Trump kepada wartawan.

Trump juga menyerukan isolasi ekonomi total terhadap Iran. Namun ia memprediksi kesepakatan mungkin tercapai setelah pemilihan sela (midterm elections) pada November mendatang. Ia mengeklaim bahwa pejabat AS telah melakukan pertemuan selama tiga jam dengan utusan Iran di sela-sela sidang tersebut.

Di tengah ketegangan, Teheran dilaporkan mengomunikasikan syarat-syarat untuk mengakhiri perang di semua lini melalui mediator Qatar di New York. Syarat-syarat tersebut meliputi:

  • Penghentian tindakan agresi AS.
  • Pengakhiran blokade angkatan laut dan perang ekonomi.
  • Pencairan aset-aset Iran yang dibekukan.

Seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu satu minggu jika AS melonggarkan tekanan militer dan mencabut blokade pelabuhan. Sebelum perang, jalur ini mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.

Kondisi Pasar Energi: Harga minyak mentah Brent naik 1% menjadi US$100,32 per barel pada Rabu, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,3% ke level US$90,88 per barel akibat ketidakpastian ini.

Dampak Blokade dan Jalur Alternatif

Data dari Kpler menunjukkan bahwa pengiriman melalui Hormuz tetap jauh di bawah normal, hanya rata-rata 6,98 juta barel per hari atau sekitar 38% dari jumlah sebelum perang. Ekspor minyak mentah Iran sendiri merosot hingga titik nol pada September ini akibat blokade angkatan laut AS.

Lembaga riset pelayaran menyebut Selat Hormuz kini semakin menjadi koridor jemputan yang dikendalikan Arab Saudi. Riyadh mengalihkan ekspor ke pesisir Teluk setelah serangan Houthi awal bulan ini menghentikan aliran pipa Timur-Barat menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan memberikan pidato di UNGA pada Rabu malam waktu setempat. Ia akan memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai posisi diplomatik Teheran pascaruntuhnya perjanjian damai sementara pada Juli lalu. (CNBC/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *