
SEORANG guru besar diharapkan dapat membina dan membimbing para dosen muda untuk meningkatkan kualitas Tridarma Perguruan Tinggi sehingga dapat membawa nama universitas ke forum global.
Yang juga lebih penting, seorang profesor atau guru besar harus jadi suri teladan dalam menjaga integritas, etika akademik, kedisiplinan, serta komitmen terhadap karwah keilmuan.
“Pasalnya, keteladanan adalah fondasi yang kuat dalam membangun budaya akademik unggul serta menanamkan karakter di lingkungan universitas,” papar Rektor Universitas Pancasila (UP) Prof Adnan Hamid dalam acara pengukuhan tiga guru besar di lingkungan UP, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Ketiga guru besar yang dikukuhkan kali ini yaitu, Prof Yesi Desmiaty sebagai guru besar ke-35 dengan keilmuan farmasi khususnya tanaman obat. Ia menjadi guru besar setelah mengabdi di UP selama 14 tahun.
Kemudian, Prof Nurmala Ahmar sebagai guru besar ke-36 dengan keilmuan akuntansi keuangan. Ia jadi guru besar setelah mengabdi di UP selama 6 tahun, dan sebelumnya di perguruan tinggi lain.
Terakhir yaitu, Prof Andiani sebagai guru besar ke-37 dengan keilmuan pengembangan aplikasi dan sistem informasi, yang menjadi guru besar setelah mengabdi di UP selama 22 tahun.
Turut hadir antara lain, Kepala Bagian Umum LLDikti Wilayah III Tri Munanto, Dewan Penasehat Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila (YPP-UP) Siswono Yudo Husodo, Jendral TNI Purn Agum Gumelar, Jendral Pol Purn Da’i Bahtiar, dan Prof Hatta Ali.
Selain itu, Ketua Pembina YPP-UP Komjen Pol (Purn) Suhardi Alius, Ketua Pengawas YPP-UP Komjen Pol (Purn) Ahwil Lutan dan Ketua Pengurus YPP-UP Prof Muhamad Anis.
Rektor UP Prof Adnan Hamid melanjutkan pengukuhan guru besar bukanlah hanya seremoni dalam pemberian gelar akademik. Ini juga bentuk pengakuan negara dan masyarakat akademik atas otoritas keilmuan seseorang. “Pencapaian ini juga mencerminkan konsistensi, kedalaman keilmuan, serta kontribusi nyata dalam tridarma perguruan tinggi,” ujarnya.
Ia mengatakan guru besar bukan sekadar jabatan akademik tertinggi, melainkan amanah intelektual yang mengandung tugas dan tanggung jawab besar, mengembangkan ilmu pengetahuan secara berkelanjutan, serta melahirkan karya-karya inovatif berdampak.
“Antara lain, dengan menjawab dan mencari jalan keluar terhadap masalah-masalah yang ada di hadapan kita, seperti masalah kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbelakangan yang nyata di masyarakat, serta tidak lupa memberikan pencerahan bagi masyarakat luas, melalui pengabdian yang bermakna,” paparnya.
Pada kesempatan itu, Prof Yesi Desmiaty selaku guru besar ke-35 UP berharap akademisi dan industri bisa saling berkolaborasi dalam memanfaatkan banyaknya ragam tanaman di Indonesia untuk menjadi bahan baku obat yang selama ini masih sekitar 90% diimpor.
“Kita banyak tanaman untuk membuat bahan baku obat yang selama ini masih banyak diimpor. Dengan kolaborasi, tentunya akan bisa membangkitkan industri farmasi kita di dalam negeri,” pungkasnya. (H-2)
