Gas Elpiji Langka, UMKM Kuliner di Labuan Bajo Terpaksa Tutup Sementara
Ilustrasi gas elpiji(ANTARA FOTO/Akramul Muslim)

PELAKU usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah menghadapi tekanan serius akibat kelangkaan gas elpiji yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir.

Krisis ini tidak hanya memicu lonjakan harga, tetapi juga memaksa sejumlah pelaku usaha menghentikan produksi, terutama di sektor kuliner.

Ade Irma, pelaku UMKM Dapur Dite, menggambarkan situasi yang ia alami sebagai kondisi yang penuh ketidakpastian. Dalam dua pekan terakhir, ia kesulitan memperoleh gas LPG yang menjadi penopang utama usahanya.

“Gas tiba-tiba hilang dari pasaran. Distributor dan kios semua bilang kosong. Ini kota pariwisata, tapi gas, BBM, dan minyak tanah justru langka dan mahal. Wisatawan ramai, hotel penuh, tapi gas kosong, ini ironis. Kami pelaku UMKM yang paling terpukul,” ujarnya., Rabu (6/5) malam. 

Dampak kelangkaan ini mulai terasa nyata di lapangan. Agus Pukan, pelaku usaha Kopi Tuk, mengaku terpaksa menghentikan produksi sementara waktu.

“Saya sudah tidak produksi lagi, menunggu gas masuk. Untuk kafe keliling, tinggal satu tabung di motor. Kebutuhan rumah tangga pun terpaksa pakai kayu bakar,” katanya.

Hal serupa dialami Andi Basse Pattarani dari Abes Kuliner. Ia menyebutkan bahwa usaha yang dijalankannya harus berhenti total karena tidak tersedianya gas elpiji sebagai bahan bakar utama.

Sementara itu, Maria Srikandi Mayangsari, pemilik Komodo Gift, menilai persoalan ini tidak semata soal pasokan, tetapi juga lemahnya sistem distribusi dan perilaku pasar. Ia menyebut kemungkinan adanya hambatan distribusi, pembelian berlebihan akibat kepanikan, hingga dugaan permainan harga oleh oknum saat stok terbatas.

“Labuan Bajo sudah berkembang pesat. Kebutuhan hotel, restoran, kapal wisata, dan UMKM meningkat tajam. Tapi distribusi belum siap menghadapi lonjakan itu, apalagi saat terjadi gangguan,” jelasnya.

Ia mendorong langkah konkret dari pemerintah dan pihak terkait, seperti pengawasan distribusi, penertiban harga, penambahan pasokan sementara, serta pendataan UMKM agar penyaluran gas lebih tepat sasaran. Operasi pasar rutin saat krisis juga dinilai penting, terutama bagi pelaku usaha produktif di sektor kuliner.

Keluhan juga datang dari sektor lain. Asro dari Asro Tenun menyebut tidak hanya gas elpiji yang sulit didapat, tetapi juga BBM dan minyak goreng.

“Kami ini seperti anak kehilangan induk, tidak tahu harus mengadu ke mana,” ungkapnya.

Ibu Hasrinda dari Kuliner Kampung Ujung turut menyoroti adanya oknum pedagang yang menaikkan harga secara tidak wajar di tengah kelangkaan.

Tekanan biaya operasional semakin dirasakan pelaku usaha. Dion, pemilik warung seafood di Kampung Ujung, mengaku pengeluaran untuk gas meningkat drastis.

“Biasanya sebulan habis empat tabung sekitar Rp1.080.000, sekarang jadi Rp1.600.000. Naik Rp520 ribu. Sementara harga menu tidak bisa langsung dinaikkan, takut pelanggan berkurang,” ujarnya.

Kelangkaan tidak hanya terjadi pada gas nonsubsidi 12 kg, tetapi juga elpiji subsidi 3 kg yang di tingkat pengecer kini mencapai Rp45.000 per tabung. Kondisi ini menjadi pukulan ganda bagi UMKM, memaksa sebagian pelaku usaha mengurangi jam operasional hingga merumahkan pekerja harian.

Dahlan dari Eluk Coffee merinci dampak yang kini dirasakan pelaku usaha, mulai dari lonjakan biaya produksi, dilema menaikkan harga jual, hingga pengurangan tenaga kerja.

“UMKM adalah penopang sektor pariwisata, tapi sekarang justru tercekik oleh biaya energi,” tegasnya.

Para pelaku UMKM mendesak Pertamina dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat segera mengambil langkah cepat dan terukur. Sejumlah tuntutan disampaikan, antara lain investigasi lonjakan harga di tingkat agen dan pengecer, operasi pasar khusus gas 12 kg bagi UMKM terdaftar, serta penetapan harga batas atas sementara selama musim ramai wisata.

Kelangkaan ini menjadi perhatian serius mengingat peran strategis Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata prioritas nasional. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi melemahkan sektor UMKM kuliner yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi lokal sekaligus penopang layanan wisata.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab utama kelangkaan maupun langkah penanganan yang akan diambil. (MM)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *