
KEMENTERIAN Pariwisata (Kemenpar) mengungkapkan adanya pergeseran tren signifikan pada wisatawan muda, khususnya dari kalangan milenial dan Generasi Z. Saat ini, para pelancong muda tersebut cenderung mencari pengalaman yang memiliki makna mendalam (meaningful experience) saat mengunjungi sebuah destinasi wisata.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menjelaskan bahwa tren ini menuntut pengelola destinasi untuk lebih kreatif dalam mengembangkan potensi alam dan budaya. Tujuannya agar wisatawan tidak sekadar berkunjung, tetapi merasakan langsung esensi dari tempat yang mereka datangi.
“Gen Z terutama, mereka mencari meaning. Ketika berwisata itu harus ada artinya. Hal ini bertransformasi terhadap pengalaman yang ingin dicapai,” ujar Made dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (30/9).
Made mencontohkan perubahan minat ini terlihat pada aktivitas mendaki gunung. Bagi Gen Z, mencapai puncak bukan lagi satu-satunya tujuan utama. Mereka kini lebih tertarik menikmati atraksi atau mengamati hal-hal menarik di sepanjang jalur pendakian.
Pengembangan Wisata Pengalaman
Untuk merespons kebutuhan tersebut, Kemenpar terus memperkuat konsep wisata pengalaman (experiential tourism). Konsep ini dinilai sebagai kunci untuk mewujudkan pariwisata Indonesia yang lebih berkualitas dengan memadukan tiga komponen utama: penghargaan terhadap budaya, kelestarian alam, dan koneksi antarmanusia.
Sejak tahun lalu, pemerintah telah memetakan lini pengembangan wisata pengalaman yang terus diperluas hingga tahun ini. Berikut adalah rincian lini pengembangan tersebut:
| Tahun Mulai | Lini Wisata Pengalaman |
|---|---|
| 2023 | Gastronomi, Kebugaran (Wellness), dan Kelautan |
| 2024 | Wastra (Kain Tradisional), Seni, dan Budaya |
Made menyoroti potensi besar wastra Indonesia, seperti Pekalongan yang telah diakui dalam UNESCO Creative Cities Network sejak 2014. Menurutnya, wastra tidak boleh hanya dipandang sebagai produk jadi, tetapi harus dikemas dalam kegiatan interaktif agar wisatawan mengenal proses dan nilai budayanya.
Mendorong Walking Tour dan Mencegah Mass Tourism
Selain wastra, sektor seni dan budaya dinilai masih belum dioptimalkan oleh para pemangku kepentingan. Made mendorong pelaku industri untuk menciptakan paket wisata yang lebih variatif, salah satunya melalui tren walking tourism atau wisata jalan kaki.
“Walking tour itu sangat bagus dan sedang tren. Kita bisa memadukan seni, budaya, wastra, hingga wisata bahari dengan berjalan kaki. Semakin kreatif dan berbeda, akan semakin menarik bagi wisatawan,” tambahnya.
Strategi ini juga diharapkan mampu mencegah penumpukan wisatawan di satu titik (mass tourism) dengan menyebarkan kunjungan ke berbagai lokasi alternatif.
Proses Menciptakan Nilai Wisata
Senada dengan Kemenpar, CEO Werkudara Group, Fadli Fahmi Ali, menekankan bahwa aset alam dan budaya Indonesia memerlukan sentuhan desain sebelum menjadi produk wisata yang bernilai. Proses ini harus dimulai dengan riset mendalam terhadap kekuatan aset, mulai dari sejarah, sosok di baliknya, hingga makna tradisinya.
“Value itu terdiri dari beberapa lapisan. Kita harus mendesain berbagai lapisan tersebut, mulai dari objeknya, orangnya, hingga tradisinya, agar bisa menjadi nilai jual yang kuat bagi wisatawan,” pungkas Fadli. (Ant/Z-1)
