Viral Siswa Acungkan Jari Tengah dan Lecehkan Guru di Purwakarta, Ini Kronologinya
Viral video siswa mengacungkan jari tengah dan mengerubungi seorang guru perempuan di Purwakarta.(Dok Istimewa )

JAGAT media sosial dihebohkan dengan video viral yang memperlihatkan sejumlah siswa melakukan tindakan tidak pantas terhadap guru di dalam kelas. Peristiwa tersebut terjadi di SMAN 1 Purwakarta dan menuai kecaman luas dari masyarakat.

Dalam video yang beredar, para siswa terlihat mengejek hingga mengacungkan jari tengah kepada guru, tindakan yang dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap sosok pendidik.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden ini terjadi pada Kamis (16/4) setelah kegiatan belajar mengajar selesai. Aksi tersebut dilakukan oleh sekitar sembilan siswa di dalam kelas.

Kepala Dinas Pendidikan setempat, Purwanto, menjelaskan kronologi kejadian tersebut:

“Kronologinya mereka telah selesai pelajaran kebhinekaan, soal aneka makanan yang diolah oleh mereka berdasarkan penuturan kepala sekolah. Lalu setelah itu terjadi aksi yang tidak terpuji dari anak-anak itu.”

Video kejadian kemudian tersebar luas di media sosial dan memicu reaksi keras dari publik karena dianggap mencerminkan krisis etika di lingkungan pendidikan.

Sanksi untuk Siswa dan Respons Sekolah

Pihak sekolah langsung mengambil tindakan dengan memanggil siswa yang terlibat beserta orang tua mereka. Para siswa diketahui telah mengakui kesalahan dan menunjukkan penyesalan.

Sekolah pun menjatuhkan sanksi berupa skorsing selama 19 hari disertai pembinaan di rumah.

Respons Gubernur Jawa Barat

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut angkat bicara terkait kejadian ini. Ia mengaku prihatin setelah menerima laporan dari Dinas Pendidikan.

“Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut dan kronologinya saya sudah mendengarkan paparan dari Dinas Pendidikan,” kata Dedi, Sabtu (18/4).

Ia juga mengungkapkan bahwa orang tua siswa telah dipanggil dan menyesali tindakan anak mereka:

“Berdasarkan informasi anak tersebut orangtuanya sudah dipanggil ke sekolah dan orangtuanya nangis merasa menyesal atas tindakan anaknya,” ujarnya.

Namun, Dedi menilai sanksi skorsing belum tentu efektif dalam membentuk karakter siswa. Ia mengusulkan pendekatan yang lebih edukatif:

“Tapi saya memberikan saran anak itu tidak skorsing selama 19 hari. Tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari dan membersihkan toilet,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya hukuman yang mendidik.

“Prinsip dasar setiap hukuman yang diberikan harus memberikan manfaat dalam pembentukan karakter bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan gurunya,” pungkasnya.

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *