
HUJAN deras disertai gelegar petir mengguyur Kota Pekanbaru, Riau, di tengah kepungan bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Sabtu (29/8) malam. Guyuran hujan yang terjadi sekitar pukul 20.30 WIB tersebut disambut sorak sorai gembira dan ucapan syukur dari masyarakat setempat.
Warga berharap hujan lebat ini menjadi titik balik berakhirnya krisis kabut asap yang telah menyelimuti wilayah Bumi Riau dalam beberapa waktu terakhir.
“Alhamdulillah, hujan deras akhirnya turun. Segala puji untuk karunia Tuhan yang memberikan hujan malam ini. Semoga kabut asap Karhutla ini segera hilang dari Kota Pekanbaru,” ungkap Murni, salah seorang warga Pekanbaru dengan nada syukur.
Senada dengan Murni, warga lain bernama Adi menilai bahwa intensitas hujan yang tinggi merupakan solusi paling efektif untuk memadamkan titik api dan membersihkan udara dari partikel asap.
“Seperti yang sama-sama kita alami dan kita tahu juga. Hanya hujan lebat seperti ini yang bisa menyelesaikan masalah kabut asap karhutla di Riau ini. Terima kasih pada-Mu Tuhan untuk hujan malam ini,” ujarnya.
Kualitas Udara masih sangat tidak Sehat
Meski hujan turun dengan lebat, data pemantauan menunjukkan bahwa kualitas udara di Kota Pekanbaru belum sepenuhnya membaik secara instan. Berdasarkan data konsentrasi Partikulat Matter (PM2.5) yang dilansir dari situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tingkat polusi masih berada pada level yang mengkhawatirkan.
Pada pukul 19.00 WIB, Sabtu (29/8), angka PM2.5 tercatat berada di posisi 182.7 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut menempatkan kualitas udara Pekanbaru dalam kategori Sangat Tidak Sehat.
Operasi Modifikasi Cuaca
Turunnya hujan di wilayah Riau ini juga tidak terlepas dari upaya intervensi manusia melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Berdasarkan informasi terbaru, tim melakukan penyemaian garam (NaCl) untuk merangsang pertumbuhan awan hujan.
Tercatat sebanyak 36 ton garam disemai sepanjang bulan Agustus. Operasi ini dilaksanakan oleh PT Smart Cakrawala Aviation dengan mengerahkan pesawat Cessna Caravan 208/PK-SNM. Penyemaian dilakukan pada ketinggian 8.000 hingga 12.000 kaki di berbagai wilayah yang memiliki potensi awan hujan di Riau guna menanggulangi dampak karhutla secara lebih luas. (I-2)
