Kebakaran Hutan Terus Terjadi
(Dok. Pribadi)

HARI-HARI ini berita media massa menyampaikan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih saja terus terjadi, utamanya di Kalimantan dan Sumatra. Mediaindonesia.com, misalnya, pada 9 Oktober 2026 menurunkan berita berjudul ‘Karhutla Kepung Ibu Kota Nusantara, Satu Hari Lima Kejadian Kebakaran’, sementara judul berita lainnya ialah ‘Karhutla Jambi Oktober 2026 Tembus 42 Ribu Hektare’. Masalahnya bukan hanya kebakaran hutan sekarang masih terjadi, fenomena El Nino juga akan masih panjang, sebagaimana mediaindonesia.com 9 Oktober 2026 juga yang menulis ‘WMO Peringatkan El Nino Ekstrem hingga 2027: Rekor Suhu Pasifik Terpecahkan’.

Tegasnya, kini kita menghadapi masalah asap serta debu kebakaran hutan yang sudah berkepanjangan yang jelas mengganggu kesehatan warga. Dan, tantangan ini tampaknya masih akan kita hadapi di waktu-waktu mendatang. Belum lagi, dampak kebakaran hutan bahkan diberitakan sampai ke negara tetangga kita, sebagaimana judul berita ‘Asap Karhutla Melintas hingga ke Singapura dan Malaysia, Presiden Jalin Komunikasi Intensif’ pada media Indonesia.com 9 Oktober 2026. Semua ini menunjukkan bahwa upaya pengendalian masalah kesehatan akibat asap kebakaran hutan masih harus kita galakkan dan pengetahuan tentang hal ini perlu kita kuasai.

 

6 KANDUNGAN, 11 GEJALA

Bersama ini disampaikan enam kandungan asap kebakaran hutan sebagaimana disampaikan oleh WHO, Juli 2026. Pertama, bahan partikel/particulate matter (PM), baik PM 10 maupun PM 2.5, juga ada partikel amat kecil (ultrafine particles/UFP) yang lebih kecil dari 0,1 mikrometer. Kedua, dalam betuk berbagai gas, seperti ozon, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, dll. Lalu ketiga ialah bahan polusi udara berbahaya, misalnya poliskilik aromatik hidrokarbon (PAH). Keempat, dalam bentuk gas rumah kaca (greenhouse gases/GHGs), seperti karbon dioksida, metana, nitros oksida, dll. Kemudian, kandungan ke lima ialah bahan metal toksik seperti timbal/Pb/’lead’, dan keenam ialah mikroplastik.

WHO juga menyampaikan enam dampak kesehatan akibat asap kebakaran hutan. Pertama bermula dari gejala ringan awal seperti iritasi saluran napas, iritasi mata, dan sakit kepala. Lalu diikuti dengan dampak berikutnya dalam bentuk gejala yang lebih serius seperti nyeri dada, napas bunyi mengi, pusing, dan lemah. Kalau terus berlanjut maka timbul dampak ketiga yaitu pada paru dan saluran napas, seperti sesak napas dan serangan asma serta eksaserbasi akut penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Dampak keempat berupa gangguan kardiovaskuler, seperti keluhan palpitasi dan juga lansia yang harus dirawat di rumah sakit. Kalau lebih berat lagi maka akan dapat saja terjadi dampak kelima, yaitu mortalitas akut dan kematian prematur akibat paparan amat besar dalam waktu singkat di kawasan tertentu. Adapun dampak keenam ialah berbagai kemugkinan dampak kronik jangka panjang, yang masih dalam penelitian kesehatan dan kedokteran di berbagai negara, dan harusnya kita juga melakukan penelitian ini mengingat kebakaran hutan kerap berulang di negara ini.

Selain WHO, Center of Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada 24 Agustus 2026 memublikasi 11 gejala yang dapat dialami seseorang yang terpapar asap kebakaran hutan. Gejala-gejala itu ialah batuk, kesulitan bernapas, napas mengi (wheezing), serangan asma, keluhan di mata, tenggorokan gatal, keluhan pilek, iritasi sinus, rasa lelah, nyeri dada, dan denyut jantung makin cepat. Publikasi CDC ini juga menyebutkan lima jenis penyakit kronik yang paling berisiko tinggi dalam menghadapi asap kebakaran hutan, yaitu asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), diabetes, penyakit ginjal kronik, dan penyakit jantung

 

CEK KESEHATAN GRATIS

Sudah banyak diberitakan tentang peningkatan kejadian penyakit ISPA di beberapa daerah. Mudah-mudahan kasus yang ada dapat tertangani dengan baik, dan untuk ini perlu ada data berapa kasus ISPA yang ada (sebagaimana yang sudah banyak diberitakan) dan dari kasus-kasus itu berapa banyak yang sembuh, berapa banyak yang kasusnya memberat menjadi pneumonia, dan berapa kasus yang berlanjut menjadi pemicu penyakit paru kronik. Juga baik diberitakan tentang keadaan eksaserbasi akut pada pasien asma bronkiale dan PPOK. Surveilans masalah kesehatan yang ada perlu dilakukan secara ketat. Tidak hanya umum, tetapi juga pada kelompok rentan.

Di sisi lain, kita tahu bahwa pemerintah kini melakukan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) setahun sekali pada masyarakat, biasanya di sekitar hari ulang tahun kita. Mengingat kebakaran hutan dan lahan yang masih berkepanjangan ini, dan dampak utamanya ialah pada paru dan pernapasan, maka baiknya kini juga dilakukan cek kesehatan pada warga yang terpapar karhutla. Akan baik kalau kini dilakukan CKG yang spesifik tentang penyakit paru, seperti anamnesis, pemeriksaan fisik paru, spirometri, dan bila perlu foto ronsen toraks dll. Kalau diperlukan tentu juga dapat dilakukan CKG untuk antisipasi masalah kesehatan lainnya.

Dari sisi lain, pemeriksaan kesehatan juga harus dilakukan pada petugas pemadam kebakaran hutan, setidaknya dalam tiga aspek. Pertama, tentu pemeriksaan kesehatan sebelum bertugas. Ini dilakukan dalam bentuk skrining kesehatan yang memadai sebelum menjadi petugas/relawan untuk mengetahui keadaan kesehatan secara keseluruhan dan ada tidaknya penyakit kronik. Hal ini perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan kedua–kalau bisa–setiap hari sebelum bertugas. Kalau sedang tidak fit maka baiknya tidak bertugas, atau diberi tugas yang lebih ringan saja. Pemeriksaan kesehatan ketiga terkait dengan kondisi sesudah beberapa bulan ini mereka berjibaku dan bekerja keras di lapangan. Pemeriksaan kesehatan harusnya mendalam agar dapat dilihat bagaimana dampak paparan beberapa bulan ini pada kesehatan para petugas pemadam kebakaran hutan.

Perlu juga disampaikan bahwa kita amat berdukacita dengan wafatnya petugas yang selama ini mengabdikan diri sebagai relawan pemadam kebakaran hutan. Mereka harus dilindungi secara maksimal, pengaturan tugas yang baik, perlindungan kerja dengan bentuk masker yang baik, dan akan lebih baik lagi kalau yang lebih lengkap seperti respirator.

Lalu, kalau ada petugas/relawan yang jatuh sakit maka harus ada mekanisme yang jelas untuk penanganan maksimal di klinik dan rumah sakit. Para petugas/relawan ini sudah bekerja amat keras bagi kepentingan masyarakat, jadi perlu mendapat pelayanan kesehatan yang amat baik pula ketika jatuh sakit.

Semoga kebakaran hutan dan lahan segera dapat dipadamkan. Upaya maksimal memang perlu dilakukan guna melindungi kesehatan warga di daerah terdampak, yang sudah beberapa bulan harus bernapas di udara dengan asap dan debu kebakaran hutan dan lahan.

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *