
BANYAK orang sering kali bingung dan menganggap ubi jalar (sweet potato) dan yam sebagai bahan makanan yang sama. Kekeliruan ini umumnya dipicu oleh pelabelan di pasar swalayan atau resep kuliner yang sering mempertukarkan kedua nama tersebut. Padahal, secara botanical, tekstur, rasa, hingga asal-usulnya, ubi jalar dan yam adalah dua jenis tanaman umbi yang sepenuhnya berbeda.
Secara taksonomi biologi, ubi jalar (Ipomoea batatas) berasal dari keluarga Convolvulaceae atau tanaman kangkung-kangkungan. Tanaman ini merupakan flora asli kawasan Amerika Tengah dan Selatan. Sebaliknya, yam (Dioscorea) tergolong dalam keluarga Dioscoreaceae dan memiliki ikatan kekerabatan yang lebih dekat dengan tanaman monokotil seperti lili atau rumput-rumputan. Yam tumbuh subur dan banyak membudidaya di kawasan Afrika serta Asia.
Dari segi penampilan fisik, kedua umbi ini memiliki perbedaan yang sangat kontras jika diperhatikan secara cermat:
1. Kulit dan Bentuk Luar
Ubi jalar biasanya memiliki bentuk yang lebih meruncing di kedua ujungnya dengan kulit lunak yang halus. Warna kulit ubi jalar sangat bervariasi, mulai dari cokelat muda, merah muda, tembaga, hingga keunguan. Sementara itu, yam cenderung berbentuk silindris memanjang dengan kulit yang jauh lebih tebal, kasar, berserat, dan berwarna cokelat gelap mirip seperti kulit kayu.
2. Daging Umbi dan Cita Rasa
Daging buah ubi jalar memiliki rentang warna yang cerah, seperti oranye, kuning, putih, atau ungu. Ketika dimasak, ubi jalar menghasilkan tekstur yang lembut, manis alami, dan lembap. Di sisi lain, daging yam umumnya berwarna putih, krem, atau merah muda pucat. Rasa yam jauh lebih netral (pucat), tidak manis, serta memiliki tekstur yang cenderung kering dan kaya akan kandungan pati seperti kentang.
3. Profil Nutrisi
Dari kacamata kandungan gizi, ubi jalar unggul dalam kandungan beta-karoten (vitamin A), terutama pada varietas yang berdaging oranye, serta kaya akan vitamin C dan serat larut. Adapun yam mengandung kadar kalium, serat kasar, dan karbohidrat kompleks yang lebih tinggi, menjadikannya makanan pokok penting di banyak negara berkembang.
Memahami perbedaan mendasar ini tidak hanya memperluas wawasan kuliner Anda, tetapi juga membantu Anda memilih bahan baku yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan resep masakan di rumah. (Live Science/Z-2)
