Road to Wonder Voice of Indonesia 2026 Dimulai, Digelar di Kampus Telkom University
Menteri Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya meresmikan mulai digelarnya Wonder Voice of Indonesia (WVI) 2026 di Kampus Telkom University, Bandung(istimewa)

UNTUK pertama kalinya Kick off Wonder Voice of Indonesia (WVI) 2026 digelar di dalam lingkungan kampus. Tahun ini, penyelenggaraannya digelar di Auditorium Gedung Damar, Telkom University, Bandung, pada Kamis (15/10).

Gelaran ini dilaksanakan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia bersama Voice Institute Indonesia. Penyelenggaraan di Kampus Telkom University merupakan kegiatan perdana memulai memulai rangkaian WVI 2026.

Kick-off ditandai dengan pemukulan gong secara simbolis oleh Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, yang didampingi Deputi Bidang Kreativitas Media, Cecep Rukendi.

Pada kesempatan itu, Teuku Riefky Harsya mengungkapkan ada 27,4 juta orang yang bekerja di industri kreatif, 63% di antaranya Gen Z dan milenial, dan 58% perempuan.

“Artinya, sektor ini berkelanjutan dan inklusif,” ungkapnya.

Dia memaparkan voiceover yang kini masuk sebagai subsektor ekonomi kreatif dapat dikolaborasikan dengan subsektor lain, mulai dari film, periklanan, televisi, konten digital, hingga games. Bahkan, suara talenta WVI saat ini telah digunakan oleh lebih dari 300 perusahaan untuk berbagai produk.

Road to WVI yang menyambangi kampus, tambah dia, memberi kesempatan mahasiswa untuk berpenghasilan sejak masih kuliah.

“Sambil kuliah pun sudah bisa punya penghasilan. Ini juga bagian agar generasi muda kita semakin mandiri, sekaligus mengurangi pengangguran di negara kita,” ujarnya.

Senada dengan hal itu, Dekan Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial (FKS) Telkom University, Iis Kurnia Nurhayati menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan dunia pendidikan dengan industri.

Voiceover dan voice acting, lanjut dia, relevan bagi mahasiswa komunikasi karena melibatkan keterampilan menyampaikan pesan, membangun karakter, mengolah emosi, dan menciptakan kedekatan dengan audiens.

“Teknologi akan terus berkembang, tetapi kepekaan, interpretasi, dan ekspresi manusia tetap memiliki nilai penting dalam komunikasi. Kami berharap kegiatan ini menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan,” tandasnya.


SULIH SUARA DALAM PETA EKONOMI KREATIF


Founder Voice Institute Indonesia, Bimo Kusumo, menyampaikan bahwa sulih suara kini memiliki tempat yang jelas dalam ekonomi kreatif nasional.

“Sulih suara kini dipandang sebagai profesi sekaligus bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Sulih suara telah menjadi salah satu dari 21 subsektor ekonomi kreatif dalam Rencana Induk Ekonomi Kreatif untuk 20 tahun ke depan,” paparnya.

Menurut Bimo, tahun 2026 menjadi momentum penting bagi WVI. Untuk pertama kalinya, WVI melakukan kick-off di kampus dan membangun kolaborasi dengan brand, yaitu Tolak Angin.

“Ini menunjukkan bahwa membangun industri tidak bisa dilakukan sendiri. Pemerintah, kampus, industri, asosiasi, komunitas, dan brand perlu bergerak bersama untuk menciptakan talenta, membuka peluang, dan membangun ekosistem yang berkelanjutan,” tandasnya.

Ini merupakan wujud nyata kolaborasi yang hasilnya terus terasa setelah program selesai, yaitu tumbuhnya industri sulih suara Indonesia.

Road to WVI 2026 di Bandung mempertemukan mahasiswa dan calon talenta suara dengan para praktisi industri. Sebelum prosesi kick-off, peserta mengikuti rangkaian sesi materi.

Sesi Basic Voiceover Skill dibawakan Bimo Kusumo bersama Binta Nadhila. Sesi ini membahas teknik dasar voiceover, mulai dari pembacaan naskah, artikulasi, intonasi, hingga delivery.

Sesi berikutnya, Basic Voice Acting, dibawakan Euis Handayani dan Jason Tenggara. Peserta dikenalkan pada dasar voice acting, meliputi karakter, emosi, situasi, hingga praktik langsung. Keduanya juga memperkenalkan program WVI 2026, mulai dari timeline, tahapan program, hingga kisi-kisi challenge, sebelum sesi ditutup dengan tanya jawab.


DUA JUTA AUDIENS


Sejak pertama kali digelar pada 2022, WVI telah menjangkau lebih dari 2 juta audiens daring, menghasilkan lebih dari 20.000 karya suara orisinal, dan berkontribusi sekitar Rp1,1 miliar terhadap industri kreatif Indonesia.

Pada 2025, seleksi WVI diikuti lebih dari 7.200 peserta dari seluruh Indonesia, jumlah tertinggi sejak program ini dimulai.

Program ini juga melahirkan komunitas Voice People di delapan kota besar dan menginisiasi Asosiasi Pengisi Suara Indonesia (Aspesnesia) pada penutupan WVI 2025.

Informasi pendaftaran dan tahapan seleksi WVI 2026 dapat diakses melalui akun Instagram @wondervoiceofindonesia.

Wonder Voice of Indonesia merupakan program kolaboratif antara Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan Voice Institute Indonesia sejak 2022.

Program ini dirancang untuk mengembangkan talenta pengisi suara Indonesia melalui pelatihan, kompetisi, dan pembinaan berjenjang agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *