Profil Satyawan Pudyatmoko: Akademisi UGM Jadi Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove
Satyawan Pudyatmoko(Dok Pribadi)

PRESIDEN Prabowo Subianto resmi melantik Satyawan Pudyatmoko sebagai Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10). Dalam kesempatan yang sama, Mayjen TNI Sriyanto juga dilantik untuk mendampinginya sebagai Wakil Kepala BPGMN.

BPGMN merupakan institusi baru yang dibentuk guna memperkuat strategi pemulihan sekaligus perlindungan ekosistem mangrove dan lahan gambut di seluruh wilayah Indonesia. Sosok Satyawan dikenal luas memiliki kepakaran mendalam di ranah kehutanan. Pengalaman panjangnya membentang dari riset dan akademisi hingga menduduki berbagai posisi strategis di birokrasi pemerintahan, khususnya pada bidang ekologi satwa liar, konservasi alam, hingga evaluasi restorasi gambut.

Latar Belakang Pendidikan dan Karier Akademik

Mengutip catatan UGM Press, pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, pada 9 Agustus 1971 ini menuntaskan pendidikan sarjananya di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1995. Pada tahun yang sama, ia langsung diangkat menjadi tenaga pengajar di almamaternya tersebut.

Satyawan kemudian melanjutkan studi jenjang magister kehutanan tropika di Georg-August-Universität Göttingen, Jerman, dan lulus pada 2001 usai meneliti ekologi burung raja udang di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Di kampus yang sama, ia berhasil meraih gelar doktor pada 2005 melalui riset mendalam mengenai penggunaan habitat serta ekologi banteng di Taman Nasional Baluran.

Kompetensi akademik tersebut membawa Satyawan aktif dalam jejaring sains internasional, antara lain:

  • Anggota International Union of Forest Research Organizations (IUFRO)
  • Anggota Wild Cattle Specialist Group di International Union for Conservation of Nature (IUCN)

Selama mengabdi di UGM, ia pernah dipercaya menduduki pelbagai jabatan penting, mulai dari Kepala Laboratorium Satwa Liar, Ketua Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan, Wakil Dekan, hingga akhirnya menjabat sebagai Dekan Fakultas Kehutanan UGM. Rektor UGM juga sempat menugaskannya untuk memimpin Kelompok Kerja Gambut UGM.

Pengalaman di Birokrasi dan Organisasi Profesi

Kiprah Satyawan di ranah isu lingkungan berlanjut saat ia memimpin Asosiasi Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIK-Indonesia) sebagai Ketua Umum, sebuah wadah yang menghimpun lebih dari 300 peneliti kehutanan dari seluruh Indonesia.

Sebelum resmi dilantik memimpin BPGMN, Satyawan memegang jabatan sebagai Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan. Ia juga mencatatkan rekam jejak sebagai Deputi Perencanaan dan Evaluasi di Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).

Sebagai informasi, BRGM sebelumnya bertugas mengawal pemulihan gambut dan rehabilitasi mangrove di daerah-daerah prioritas hingga masa tugasnya berakhir pada 31 Desember 2024. Guna memperkuat tata kelola lingkungan terpadu dan menanggulangi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang rutin terjadi, Presiden Prabowo Subianto resmi menetapkan pembentukan BPGMN pada 24 September 2026.

Tiga Mandat Utama BPGMN

Dalam menjalankan roda organisasi BPGMN, pemerintah menetapkan tiga pilar tugas utama, yakni:

  1. Perlindungan: Menjaga keutuhan dan keberlanjutan ekosistem gambut dan mangrove.
  2. Pemulihan (Restorasi): Memperbaiki kondisi lingkungan yang telah mengalami kerusakan.
  3. Pengembangan Ekonomi: Memaksimalkan nilai ekonomi bernilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat sekitar secara berkelanjutan.

Melalui sinergi keahlian akademik, rekam jejak konservasi, serta pengalaman birokrasi yang dimilikinya, Satyawan kini memikul tanggung jawab besar dalam mengoordinasikan tata kelola dua ekosistem krusial Indonesia, menekan risiko karhutla, sekaligus mendorong dampak ekonomi positif bagi masyarakat. (Ant/E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *