Latihan Fisik Bantu Lansia Tetap Aktif
Latihan penguatan otot dan aspek psikologis dalam fisioterapi lansia.(Dok. Magnific)

AKTIVITAS fisik yang terukur menjadi salah satu upaya penting untuk menjaga kemampuan gerak lansia, terutama bagi mereka yang mengalami gangguan sendi dan penurunan kekuatan otot. Namun, latihan bagi kelompok usia lanjut membutuhkan pendampingan khusus agar sesuai dengan kondisi fisik sekaligus membantu mereka tetap aktif menjalani kegiatan sehari-hari.

Trainer dari WM Center, Windy Mayang mengatakan, salah satu keluhan yang kerap ditangani pada pasien lansia adalah osteoarthritis (OA) atau pengapuran sendi, terutama pada bagian lutut. Kondisi tersebut membutuhkan pendekatan fisioterapi yang mengombinasikan latihan penguatan otot dan peregangan secara bertahap.

“Kalau lansia, berarti harus di-strengthening dulu. Strengthening-nya secara berkala, kemudian stretching dibanyakin, karena pasti hamstring-nya juga tight,” ujar Windy di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, latihan penguatan otot diperlukan untuk membantu menjaga fungsi gerak, sementara peregangan dilakukan untuk mengurangi kekakuan otot yang dapat menghambat aktivitas fisik. Intensitas dan jenis latihan perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing pasien agar proses pemulihan berjalan secara bertahap.

Windy menjelaskan, penanganan pasien lansia juga tidak bisa disamakan dengan kelompok usia yang lebih muda. Selain mempertimbangkan kondisi fisik, fisioterapis perlu memperhatikan aspek psikologis dan membangun komunikasi yang baik selama proses terapi.

“Dengan pasien-pasien lansia ini, yang pertama kita harus mengedepankan psikis dari lansia tersebut. Kemudian yang ketiga, pasien lansia itu membutuhkan komunikasi yang lebih signifikan,” tuturnya.

Ia menilai kenyamanan dan komunikasi menjadi faktor penting dalam mendorong lansia menjalani latihan secara konsisten. Pendekatan tersebut diperlukan agar pasien tidak merasa terbebani ketika mengikuti program pemulihan maupun latihan fisik.

Latihan Berkelompok untuk Lansia

Selain pendampingan secara individual, latihan berkelompok mulai dikembangkan sebagai salah satu pendekatan untuk mendorong lansia tetap aktif. Kegiatan bersama dinilai dapat memberikan kesempatan bagi peserta untuk berinteraksi sekaligus mengurangi kejenuhan selama menjalani program latihan.

Windy mengatakan, pendekatan tersebut diterapkan melalui WM Class, yakni program latihan berkelompok dengan pendampingan fisioterapis. Dalam satu kelompok, tiga peserta lansia didampingi oleh seorang fisioterapis selama menjalani aktivitas fisik.

“Layanan khusus yang tadi kita launching adalah WM Class, di mana perform rata-rata untuk lansia. Karena berkelompok, nanti akan secara berkelompok. Jadi, tiga pasien lansia, satu fisioterapi,” katanya.

Menurut Windy, pendekatan berkelompok tidak hanya diarahkan untuk menjaga kemampuan fisik, tetapi juga membangun interaksi sosial antarpeserta. Dengan adanya kelompok latihan, lansia diharapkan lebih termotivasi untuk mengikuti kegiatan secara rutin.

“Mereka memiliki komunitas di mana mungkin tidak akan mengalami kejenuhan,” ujarnya.

Windy menambahkan, program latihan tersebut tidak terbatas pada kelompok lansia. Pasien yang mengalami gangguan muskuloskeletal, termasuk nyeri punggung bawah atau low back pain, juga dapat menjalani latihan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Latihan bagi pasien dengan keluhan tersebut antara lain diarahkan pada penguatan otot inti atau core muscle untuk membantu mendukung stabilitas tubuh dan kemampuan bergerak.

Pemulihan Cedera tak Cukup hanya Terapi

Di luar kebutuhan lansia, pendekatan fisioterapi juga berkembang untuk mendukung pemulihan cedera olahraga hingga membantu pasien kembali menjalani aktivitas fisik. Proses pemulihan tidak hanya berorientasi pada berkurangnya keluhan, tetapi juga pemulihan kekuatan, stabilitas, dan kemampuan gerak.

Windy mengatakan, kebutuhan tersebut antara lain muncul pada pasien pascaoperasi cedera anterior cruciate ligament (ACL) maupun meniskus. Pasien dengan kondisi tersebut memerlukan program latihan bertahap sebelum kembali menjalani aktivitas olahraga.

Seiring meningkatnya aktivitas olahraga masyarakat, kebutuhan pemulihan fisik juga menjadi perhatian, termasuk di kalangan atlet sepak bola, voli, bulu tangkis, basket, dan lari.

Windy mencontohkan, atlet lari jarak jauh membutuhkan perhatian terhadap pemulihan fisik setelah menjalani aktivitas dengan intensitas tinggi. Hal ini diperlukan agar kondisi tubuh tetap terjaga dalam menghadapi latihan maupun kompetisi berikutnya.

“Kebetulan sekarang banyak atlet lari karena ada pro elite, si maraton tersebut. Saya berharap Robi Syianturi yang datang ke sini. Karena dia sudah maraton 42 kilometer, sekitar pace-nya 3, itu butuh recovery,” ujarnya.

Untuk menjangkau kebutuhan tersebut, WM Center membuka cabang ke-12 di kawasan Sunter, Jakarta Utara, dengan fasilitas fisioterapi dan area latihan yang mendukung pemulihan cedera olahraga maupun program latihan bagi lansia.

Windy menjelaskan, kawasan Sunter dipilih karena memiliki berbagai fasilitas olahraga dan komunitas yang aktif, termasuk olahraga padel. Selain itu, Jakarta Utara sebelumnya belum memiliki cabang WM Center.

Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan fisioterapi, baik untuk pemulihan cedera maupun latihan fisik yang dilakukan secara terarah.

Bagi kelompok lansia, pendampingan menjadi bagian penting untuk membantu menjaga kemampuan bergerak sesuai kondisi tubuh. Sementara bagi pasien cedera olahraga, latihan bertahap diarahkan untuk mendukung proses pemulihan sebelum kembali menjalani aktivitas fisik. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *