
Yuk eksplorasi sejumlah inisiatif keberlanjutan yang diimplementasikan di industri kriya, termasuk para perajin yang tampil pada Inacraft October Vol. 5 pada 7–11 Oktober 2026 di Jakarta. Ada pula program yang dilaksanakan oleh penyelenggara, meliputi inovasi terkait material, ekonomi sirkular, dan berbagai program pendukung ramah lingkungan.
Program pemanfaatan limbah sebagai bahan baku atau upcycling dan penambahan nilai, misalnya, bisa ditemui dalam pemanfaatan pakaian tidak terpakai sebanyak 3.000 potong yang diubah menjadi pakaian luar yang gaya. Berbagai program inisiatif yang didukung bank swasta itu sukses mengurangi 52 ton CO2 atau setara perjalanan mobil 175 ribu km. Salah satu jenama yang digandeng dalam program ini adalah Othman.
Ada pula jenama Perada Batik yang memamerkan aneka ornamen rumah dari limbah kertas semen yang dipotong kecil, ditenun, dan diberi dekorasi dengan teknik batik dengan daya tahan tinggi.
Ada pula perajin Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan Solo yang memanfaatkan malam berbahan sawit untuk menekan ketergantungan pada bahan fosil impor. Inisiatif lainnya dilakukan jenama Ikaten dari Sragen, Jawa Tengah, yang mengolah material turunan tekstil dan sisa produksi menjadi produk fesyen dengan pasar milenial dan Gen Z.
Sementara itu, penyelenggara pameran, Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI), bekerja sama dengan Waste Hub Management untuk mengampanyekan kesadaran pengelolaan limbah dan penerapan praktik bisnis berkelanjutan di kalangan perajin.
Berbagai inisiatif itu bisa dieksplorasi di Inacraft pekan ini yang mengusung tema Technocraft yang berfokus pada regenerasi perajin muda melalui perpaduan kearifan lokal, teknologi, dan inovasi pasar. “Sedangkan tema Technocraft yang diusung menjadi jembatan antara kekayaan kriya tradisional Indonesia dan kebutuhan industri. Teknologi ditempatkan sebagai sarana untuk meningkatkan daya saing, presisi, dan nilai tambah produk tanpa menghilangkan identitas budaya serta keterampilan tangan para perajin,” kata Ketua Umum BPP ASEPHI Hatman.
Selama lima hari penyelenggaraan hingga 11 Oktober 2026, ASEPHI menargetkan 80.000 pengunjung, transaksi ritel Rp100 miliar, serta potensi kontrak dagang senilai US$2,7 juta. Pameran yang digelar secara swadana ini turut didukung kolaborasi lintas sektor, salah satunya melalui PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai sponsor utama yang memfasilitasi transaksi digital, program undian, serta akses pembiayaan kredit bagi anggota ASEPHI.
INACRAFT October 2026 terbuka untuk masyarakat umum pada pukul 10.00–21.00 WIB dengan tiket masuk Rp35.000. Selain menampilkan produk kriya unggulan, pameran ini menghadirkan sejumlah agenda, seperti Business Forum, Craft Talk, Workshop, Digital Lounge, Craft Experience, dan INACRAFT Appreciation Night.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso saat membuka acara menyatakan pameran tersebut menjadi salah satu pijakan bagi pengembangan pasar ekspor produk kerajinan. “Kami mengapresiasi konsistensi ASEPHI menyelenggarakan Inacraft selama lebih dari dua dekade, menjadi etalase kriya terbesar, paling bergengsi, dan paling dinamis di kawasan Asia Tenggara,” ujar Budi.
Budi menjelaskan, kinerja ekspor produk home decor Indonesia pada Januari–Juli 2026 menunjukkan pertumbuhan, dengan nilai mencapai US$821 juta atau naik 6,8%. (X-6)
