
PARA astronom menemukan eksoplanet langka yang lahir dari puing-puing kematian bintang induknya sendiri. Fenomena ini diibaratkan seperti burung mitologis Phoenix yang bangkit dan lahir kembali dari tumpukan abu.
Planet generasi kedua ini ditemukan mengorbit sebuah bintang kerdil putih (white dwarf) bernama HS 0209+0832, sisa-sisa inti bintang yang telah mati dan kehabisan bahan bakar nuklirnya. Penemuan ini menjadi bukti berharga bahwa proses pembentukan planet tidak hanya terjadi pada awal kehidupan sebuah bintang, tetapi juga bisa terjadi di fase paling akhir dari siklus hidup bintang tersebut.
“Planet generasi kedua adalah dunia yang terbentuk dari materi yang dilontarkan oleh sebuah bintang ketika bintang tersebut mati. Planet jenis ini sangatlah langka,” ungkap para peneliti mengenai penemuan tersebut.
Secara umum, ketika bintang tunggal berukuran sedang mencapai akhir hidupnya, bintang tersebut akan mengembang menjadi raksasa merah sebelum akhirnya melontarkan lapisan terluarnya ke ruang angkasa secara simetris dan menyisakan inti kerdil putih. Dalam kondisi normal, materi yang terlempar akan lepas begitu saja ke medium antarbintang.
Namun, dalam kasus HS 0209+0832, terdapat dinamika sistem yang berbeda. Para ilmuwan menduga bintang ini tidak mati sendirian, melainkan memiliki bintang pendamping (companion star).
Gaya gravitasi dari bintang pendamping tersebut menarik kembali sebagian materi yang dilontarkan oleh bintang yang sekarat. Materi tersebut kemudian terperangkap dan membentuk piringan debris (debris disc) yang berputar di sekeliling kerdil putih. Dari piringan materi dan abu sisa-sisa kematian bintang inilah, planet raksasa gas baru perlahan-lahan menggumpal dan lahir kembali.
Membuka Tabir Baru Evolusi Alam Semesta
Temuan ini memberikan perspektif baru bagi para ilmuwan antariksa mengenai potensi “kehidupan kedua” bagi sistem tata surya. Selama ini, para astronom meyakini bahwa kematian bintang induk akan menghancurkan atau melontarkan planet-planet di sekitarnya.
Penemuan planet di sekitar kerdil putih HS 0209+0832 membuktikan bahwa kematian sebuah bintang tidak selalu menjadi akhir dari segalanya. Dalam kondisi lingkungan yang tepat, puing-puing kehancuran bintang justru dapat menjadi bahan baku utama bagi kelahiran dunia baru di alam semesta. (Space/Z-2)
