
KEPALA Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Syahganda Nainggolan, mengungkapkan dirinya awalnya ditugaskan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk Turki. Namun, tugas tersebut batal karena Presiden Prabowo menginginkan dirinya tetap berada di dalam negeri untuk mengawal komunikasi pemerintah.
Syahganda menceritakan, kepastian pembatalan penugasan ke Turki baru diterimanya satu hari menjelang pelantikan sebagai Kepala Bakom di Istana Negara.
“Ketika saya dilantik, itu satu hari sebelum saya dikasih tahu, ‘Pak Syahganda, Bapak Presiden tidak berkenan Bapak menjadi Duta Besar.’ Karena saya awalnya di-plot untuk Duta Besar di Turki, udah jelas tempatnya karena beliau sendiri bulan Maret sudah menyampaikan. Tidak jadi, ‘Karena Bapak tetap menginginkan Anda di Indonesia.’ Saya tolak H-2, H-1 muncul lagi itu, ‘Oke, siap,’ saya bilang, siap,” ungkap Syahganda ketika serah terima jabatan Kepala Bakom, Selasa (6/10).
Syahganda menceritakan usai dilantik, dirinya bersama Wakil Kepala Bakom Fadli Tri Hartono langsung dipanggil Presiden Prabowo ke kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (4/10). Dalam pertemuan selama dua jam tersebut, Presiden Prabowo memberikan arahan mengenai dua tugas utama Bakom.
Tugas pertama adalah memastikan seluruh program dan ide esensial Presiden tersampaikan dengan gamblang hingga ke lapisan masyarakat terbawah. Sementara tugas kedua adalah menyerap aspirasi dan dinamika warga untuk dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo
“Saya bertemu dengan beliau dua jam. Kita diberitahu tentang bagaimana Bakom ini pikiran-pikiran beliau, program-program beliau, itu sampai ke rakyat yang paling bawah. Yang kedua, Bapak Presiden mengarahkan pikiran orang-orang yang paling bawah dan apa yang terjadi paling bawah harus sampai ke telinga beliau. Ini yang diminta, jadi bagaimana kita ini mendengarkan suara rakyat. Pesannya itu,” ujar Syahganda. (E-4)
