Studi Ungkap Obat ADHD Mampu Pangkas Risiko Kematian
ilustrasi(Magnific)

GANGGUAN pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD) selama ini lebih sering diasosiasikan dengan gejala psikologis seperti kesulitan fokus, impulsivitas, dan mudah gelisah. Namun, di balik berbagai tantangan perilaku tersebut, riset kesehatan global menunjukkan bahwa penyandang ADHD juga menghadapi kerentanan fisik yang jauh lebih tinggi.

Sebuah ulasan ilmiah berskala besar yang baru-baru ini dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open menganalisis data dari lebih 15,9 juta partisipan lintas 19 studi global. Hasilnya, penyandang ADHD tercatat memiliki risiko kematian secara umum yang 70% lebih tinggi dibandingkan populasi normal termasuk lonjakan risiko bunuh diri, kecelakaan, hingga kematian akibat kondisi medis alami.

Harapan Baru dari Pengobatan Medis

Kendati angka risiko tersebut tampak mengkhawatirkan, kabar baiknya terungkap melalui efektivitas intervensi medis. Studi ini menemukan bahwa rutin mengonsumsi obat ADHD yang diresepkan secara tepat mampu menurunkan risiko kematian secara signifikan hingga 25%.

Meskipun obat bukan satu-satunya faktor penentu dan penelitian ini belum menetapkan hubungan sebab-akibat langsung, para ahli kesehatan menegaskan bahwa pengobatan terbukti membantu pasien mengendalikan impulsivitas dan inatensi yang kerap memicu berbagai risiko kecelakaan maupun masalah kesehatan ikutan.

Pentingnya Diagnosis Dini dan Dukungan Komprehensif

Menanggapi temuan ini, Dr. Claudia Aymerich, seorang konsultan psikiater, mengingatkan agar masyarakat tidak salah mengartikan data statistik tersebut sebagai vonis mutlak bagi setiap individu penyandang ADHD.

“Angka persentase tersebut merupakan ukuran perbandingan kelompok, bukan prediksi umur mutlak seseorang,” jelas Dr. Aymerich. “Mortalitas dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, termasuk kesehatan fisik, penanganan kondisi mental penyerta, serta akses terhadap fasilitas medis yang memadai.”

Para peneliti dan tenaga medis sepakat bahwa temuan ini harus menjadi momentum perbaikan layanan kesehatan global. Fokus utama ke depan adalah memastikan kemudahan akses diagnosis dini, penanganan terapeutik yang berkelanjutan, serta dukungan sosial yang tepat bagi penyandang ADHD di sepanjang rentang kehidupan mereka.

(BuzzFeed/P-4)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *