Sering Lelah dan Lemas? Waspada Gejala Tersembunyi Kekurangan Zat Besi yang Sering Diabaikan
ilustrasi(Magnific)

KELELAHAN kronis, kabut otak (brain fog), serta sensasi tubuh lemas yang tak kunjung hilang kerap dianggap sebagai akibat dari kurang tidur atau stres kerja semata. Padahal, fenomena medis terbaru menunjukkan bahwa gejala-gejala tersebut bisa jadi merupakan sinyal dari defisiensi zat besi, suatu kondisi kekurangan kadar feritin dalam tubuh yang sering kali terabaikan karena belum berkembang menjadi anemia.

Menurut data American Society of Hematology (ASH), defisiensi zat besi merupakan salah satu jenis kekurangan mikronutrien yang paling umum menyerang masyarakat. Sayangnya, pemeriksaan darah standar sering kali hanya berfokus pada jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin, sehingga kasus defisiensi zat besi dini kerap luput dari deteksi medis.

Perbedaan Defisiensi Zat Besi dan Anemia

Banyak masyarakat awam menganggap defisiensi zat besi dan anemia adalah hal yang sama. Namun secara medis, keduanya memiliki perbedaan mendasar:

  • Anemia: Terjadi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin penyerap oksigen berada di bawah batas normal. Gejalanya meliputi pusing, sesak napas, wajah pucat, hingga jantung berdebar.
  • Defisiensi Zat Besi (Tanpa Anemia): Cadangan zat besi (feritin) di dalam tubuh sudah berada pada tingkat yang sangat rendah, tetapi kadar hemoglobin masih terlihat normal. Penderita dapat mengalami gejala kelelahan parah, brain fog, sindrom kaki gelisah (restless leg syndrome), hingga pica (dorongan aneh untuk mengunyah es batu atau benda non-makanan).

Panduan Diagnostik Terbaru ASH 2026

Guna mencegah komplikasi lebih lanjut, ASH merilis panduan diagnostik terbaru yang merevisi ambang batas pemeriksaan kadar feritin darah secara lebih responsif:

  • Anak-anak: Batas aman feritin minimal 20 ng/mL.
  • Orang Dewasa Umum: Batas aman feritin minimal 30 ng/mL.
  • Kelompok Berisiko Tinggi (Wanita Menstruasi Berat, Vegan, Pengguna Antasida): Batas aman ditingkatkan menjadi minimal 50 ng/mL.
  • Pasien dengan Peradangan Kronis: Batas aman disesuaikan hingga 100 ng/mL disertai pemeriksaan saturasi transferin.

Para pakar medis menegaskan bahwa mendiagnosis kadar zat besi melalui tren media sosial seperti “ferritin face” (klaim bahwa lingkaran hitam mata atau kulit pucat bisa dilihat lewat swafoto) tidak akurat secara medis. Pemeriksaan darah laboratorium untuk tes kadar feritin tetap menjadi standar emas terandal untuk mendeteksi kondisi ini secara presisi.

(CNN/P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *