
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menargetkan pembangunan 200.000 unit rumah rendah emisi hingga 2030 melalui kerja sama dengan mitra pengembang. Hingga Juni 2026, realisasi pembangunan mencapai sekitar 18.000 unit atau baru 9 persen dari target tersebut.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, pengembangan rumah rendah emisi menjadi bagian dari transformasi ekosistem perumahan yang dijalankan perseroan dengan mengintegrasikan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG).
“Transformasi ini kita jalankan dengan tetap mempertahankan mandat BTN dalam mendukung pembiayaan perumahan nasional, sembari memperluas layanan ke berbagai produk dan kebutuhan finansial keluarga Indonesia,” kata Nixon dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk TRANSFORMASI BTN, Membangun Sinergi Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan, kemarin.
Berdasarkan capaian hingga Juni 2026, masih terdapat selisih sekitar 182.000 unit rumah rendah emisi yang perlu dipenuhi untuk mencapai target pada 2030. Pengembangan hunian tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan pengembang mitra sebagai bagian dari penerapan prinsip keberlanjutan di sektor perumahan.
Ia menjelaskan, program Rumah Rendah Emisi menjadi salah satu langkah BTN dalam mendorong pembangunan hunian yang lebih ramah lingkungan. Perseroan juga mengembangkan program pengelolaan sampah di lingkungan perumahan untuk mendukung penerapan konsep keberlanjutan pada kawasan hunian.
Selain itu, lanjut dia, BTN menjalankan program pengembangan kewirausahaan di sektor perumahan dengan melibatkan mahasiswa, masyarakat umum, pengembang, dan pelaku usaha. Program tersebut diarahkan untuk mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam pengembangan solusi perumahan berkelanjutan.
Dalam memperkuat ekosistem perumahan, BTN telah bekerja sama dengan lebih dari 8.000 mitra pengembang. Jaringan tersebut menjadi bagian dari dukungan perseroan terhadap pembangunan dan pembiayaan hunian nasional.
Di sisi pembiayaan, realisasi plafon Kredit Program Perumahan (KPP) mencapai Rp6,16 triliun kepada 9.236 debitur hingga 20 Oktober 2026. Jumlah tersebut terdiri atas pembiayaan sisi pasokan sebesar Rp4,02 triliun dan sisi permintaan Rp2,14 triliun.
“Pembiayaan dari sisi pasokan mencakup pengembang, kontraktor, pemasok, distributor, hingga toko bahan bangunan. Sementara itu, sisi permintaan menyasar calon debitur potensial, termasuk wiraswasta dan nasabah dengan riwayat kredit yang baik,” jelas dia.
Hingga September 2026, total Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang telah disalurkan BTN mencapai Rp552 triliun. Pangsa pasar perseroan pada sektor pembiayaan perumahan tercatat sebesar 39% pada Juni 2026, sedangkan pangsa pasar KPR subsidi mencapai 69% pada September 2026.
Pengembangan rumah rendah emisi menjadi bagian dari agenda BTN untuk memperluas penerapan ESG dalam sektor perumahan, bersamaan dengan penguatan pembiayaan dan pengembangan ekosistem hunian. (Z-10)
