
FIAT justitia ruat caelum. Sepertinya mudah untuk mengatakan hukum harus ditegakkan meski langit harus runtuh. Namun, dalam praktiknya tidak mudah untuk menjalankannya.
Setidaknya dilema itu yang sedang terjadi di Inggris. Independent Financial Regulator (IFR) secara tegas menyatakan Manchester City terbukti melakukan 114 pelanggaran keuangan dalam periode sembilan tahun dari 2009 hingga 2018. Namun, putusan itu tidak kunjung bisa dieksekusi Liga Primer.
Manchester City seperti sebelum-sebelumnya menyatakan banding atas keputusan itu. Liga Primer memberikan waktu kepada pemilik klub asal Abu Dhabi, Emirat Arab, Sheikh Mansour bin Zayed al-Nahyan untuk menyampaikan sanggahan.
Batas waktu dua minggu yang diberikan tampaknya akan terlewati. Perkiraan terbaru mungkin baru pertengahan Januari nanti Liga Primer akan memberikan keputusan terakhir.
Persoalan menjadi lebih rumit karena masuk unsur politik di dalamnya. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyatakan kekhawatirannya bahwa sanksi yang dijatuhkan kepada Manchester City akan memengaruhi hubungan bilateral antara Inggris dan Emirat Arab. Terutama Burnham mengkhawatirkan masa depan investasi Emirat Arab di Inggris.
Pernyataan kepala pemerintahan Inggris itu mendapat kecaman dari masyarakat Inggris. Penegakan aturan tidak bisa dikompromikan dengan urusan politik dan ekonomi.
Masa depan penegakan hukum di Inggris akan kehilangan kredibilitas kalau kompromi hukum itu dilakukan. Apalagi pelanggaran yang dilakukan tidak hanya banyak, tetapi juga berat karena memengaruhi persoalan fair play di dalam olahraga.
ANCAM MUNDUR
Ketua IFR David Kogan merupakan pihak yang paling keras untuk menegakkan aturan. Kogan mengancam akan mundur dari jabatan sebagai pengawas keuangan apabila ada kompromi yang dilakukan.
“Sebagai seorang politikus, Perdana Menteri silakan untuk berbicara diplomatis. Namun, keputusan yang ditetapkan IFR tidak untuk dikompromikan,” tegas Kogan.
Ia bahkan menyebut dirinya mempunyai kekuasaan penuh untuk menjatuhkan sanksi. Termasuk yang paling keras ialah melarang pemilik Manchester City untuk terlibat dalam sepak bola di Inggris dan harus menjual kepemilikannnya di klub itu.
Menurut Kogan, ketegasan perlu dilakukan karena pelanggaran yang dilakukan Manchester City terbukti dan itu sangat berat. Selama sembilan tahun mereka memberikan laporan palsu mengenai pendapatan klub yang nilainya mencapai 830 juta pound sterling.
Dengan pendapatan yang tidak benar itu, City mendapat hak untuk membelanjakan pemain dengan anggaran yang besar. Dalam periode itu mereka mengumpulkan pemain-pemain terbaik dunia dan menjadikan Manchester City sebagai superclub.
Itulah yang membuat City kemudian bisa merajai Liga Primer lebih dari satu dekade ini. Dari sana ‘the Citizen’ bisa menarik penonton, menjual merchandise lebih banyak, dan mendapat bagian terbesar dari hasil siaran televisi. Apalagi ketika mereka bisa merajai Liga Eropa.
Di musim sekarang ini, Manchester City bisa membelanjakan 475 juta pound sterling untuk membeli pemain-pemain bintang. Sebuah rekor belanja pemain yang dihasilkan dari rekayasa laporan keuangan yang bertahun-tahun dilakukan.
Manchester City bisa menyewa pengacara hebat agar terhindar dari hukuman IFR. Sementara itu, klub-klub lain harus menerima hukuman seketika ketika pelanggaran ditemukan IFR.
Everton, misalnya, pernah dihukum sampai dua kali karena pelanggaran pelaporan keuangan. Klub asal Liverpool itu bahkan nyaris terkena degradasi akibat pemotongan angka yang dijatuhkan Liga Primer karena pelanggaran laporan keuangan.
HARUS KERAS
Para pecinta sepak bola Inggris menuntut Liga Primer untuk berlaku adil. Hukuman harus berlaku sama terhadap siapa pun yang melakukan pelanggaran. Tidak boleh ada kompromi dalam penegakan hukum.
Dengan tingkat pelanggaran yang begitu berat, Manchester City harus dijatuhi hukuman keras. Bukan saja gelar juara yang didapat mereka selama sembilan tahun harus dicabut, mereka juga mesti memulai kompetisi dari kasta paling rendah di Liga Inggris.
Tindakan keras itu perlu diambil untuk memberikan pelajaran kepada klub-klub lain. Tidak bisa karena pemilik mereka orang yang kaya raya, boleh mengangkangi peraturan dengan seenaknya.
Apabila Inggris gagal untuk menegakkan aturan itu, bukan hanya sepak bola yang akan tercoreng, melainkan juga kehidupan yang lebih luas. Tingkat kepercayaan terhadap penegakan hukum di Inggris akan kehilangan kredibilitas.
Padahal, selama ini Inggris menjadi acuan dalam penegakan hukum yang tanpa kompromi. London dipercaya sebagai pusat keuangan dunia karena aturan hukum yang tegas.
Beberapa negara persemakmuran selalu mengacu kepada induk semang mereka. Inggris menjadi juara penegakan hukum dan itulah yang membuat orang semakin percaya dan akhirnya makin banyak modal yang mengalir masuk ke Inggris.
Sekarang ketika Inggris harus berkompromi untuk kepentingan jangka pendek, itu bisa mengorbankan aspek yang lebih luas. Sepak bola bukan sekadar sepak bola, melainkan juga cerminan bagi kehidupan yang lebih besar.
Itulah yang sedang ditunggu masyarakat Inggris dan dunia. Bagaimana mereka menyelesaikan kasus yang begitu nyata tingkat pelanggarannya. Aturan yang dibuat tidak bisa dikompromikan penegakannya.
Semakin lama kasus itu digantung semakin pelik penyelesaiannya. Kalau baru Januari nanti diputuskan, Liga Primer sudah berjalan setengah musim. Demikian pula dengan Liga Champions yang Manchester City juga tampil dan mungkin akan bermain di 16 besar. Lalu bagaimana hasil pertandingan yang sudah dimainkan City selama ini? Hanya pihak Liga Primer yang bisa menjawabnya.
