
OTORITAS Prancis mengkonfirmasi temuan infeksi virus Shamonda pada manusia untuk pertama kalinya di dunia, Kamis (22/10). Selama ini, virus Shamonda hanya dikenal menyerang hewan ternak dan dianggap tidak menular ke manusia. Demikian dilansir dari The Independent, Jumat (23/10).
Sementara itu, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menanggapi lewat unggahan di akun X-nya @DrTedros, dikutip Jumat (23/10). Ia mengkonfirmasi bahwa ini adalah kasus infeksi manusia pertama yang terdokumentasi, dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga pasien.
WHO disebut menjalin kontak dengan otoritas Prancis untuk memahami sumber infeksi, kemungkinan jalur penularan, dan potensi risikonya bagi kesehatan masyarakat. Tedros mengingatkan bahwa “studi lanjutan diperlukan untuk memahami penularan secara penuh”.
“Virus Shamonda terutama menyerang hewan seperti sapi, domba, kambing, dan kuda. Virus ini diduga menyebar di antara hewan melalui gigitan midge atau agas, sejenis serangga kecil yang menyerupai lalat. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami proses penularannya secara menyeluruh,” tulis Ghebreyesus.
“Pasien asal Prancis tersebut berada di suatu wilayah tempat virus Shamonda beredar di kalangan hewan dan di mana serangga agas juga ditemukan.”
Virus Shamonda adalah Orthobunyavirus yang ditularkan serangga dan terutama menyerang ternak, khususnya sapi. Penularan antarhewan terjadi lewat gigitan agas penghisap darah, serangga kecil mirip lalat. Virus ini satu kelompok dengan virus Schmallenberg (SBV).
Virus pertama kali teridentifikasi di Nigeria pada pertengahan 1960-an dan sejak itu terdeteksi sporadis pada hewan di Afrika dan Jepang. Sapi dianggap inang utama karena menunjukkan gejala yang jelas, tetapi domba dan kambing juga bisa terinfeksi walau tidak menunjukkan tanda klinis yang nyata. Virus juga pernah ditemukan pada alpaka dan kuda di sejumlah negara Eropa.
Pada sapi, masa inkubasi berlangsung dua hingga tiga hari, dengan gejala berupa demam mendadak, diare, lesu, ketidaknyamanan perut, dan penurunan produksi susu. Pada sapi bunting, infeksi dapat memicu keguguran atau cacat lahir berat pada anak sapi.
Badan kesehatan hewan Inggris (APHA) mencatat kekhawatiran adanya kelainan bawaan, mirip yang terjadi pada SBV. Namun, virus ini tidak dianggap mematikan bagi sapi.
Saat ini belum ada vaksin, sehingga pencegahan dan pengendalian bertumpu pada penggunaan insektisida dan repelen. Dilaporkan WIRED, pasien berada di sebuah hospice (fasilitas perawatan paliatif) di Lyon, Prancis, dan sedang menjalani perawatan akibat penyakit serius. Ia mengalami imunosupresi berat, sehingga kasus ini dinilai bersifat luar biasa.
Hasil penyelidikan awal menunjukkan gangguan neurologis yang dialaminya sebelum meninggal “sangat mungkin terkait” infeksi Shamonda, menurut pernyataan resmi kementerian. Penyelidikan klinis, biologis, dan epidemiologis kini masih berlangsung.
Dugaan utama saat ini adalah pasien terinfeksi di wilayah timur Prancis, tempat virus beredar di kalangan hewan, dan penularan terjadi melalui gigitan serangga. Para ahli mengingatkan publik untuk tidak berspekulasi berlebihan.
Ben Brennan, profesor virologi di University of Glasgow, menyebut temuan ini penting secara ilmiah. Namun, ia menekankan kasus ini harus dilihat secara proporsional. Pasien memiliki penyakit penyerta serius yang membuatnya rentan terhadap infeksi, dan belum tahu pasti apakah virus Shamonda berkontribusi pada kematiannya. (H-4)
