Pengembangan Usaha Jamu Herbal Berbasis Teknologi Digital dan Tata Kelola Keuangan UMKM
Ilustrasi(Dok istimewa )

PELUANG usaha berskala rumah tangga kerap berawal dari pemenuhan kebutuhan kesehatan keluarga. Formulasi racikan herbal tradisional kini kian berkembang menjadi komoditas ekonomi yang memiliki potensi pasar secara luas melalui penerapan teknologi digital dan manajemen usaha yang terstruktur.

Langkah perintisan usaha jamu instan diawali dari pembuatan minuman kesehatan untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang bekerja dalam sistem tiga sif. Pengembangan produk herbal ini semakin intensif setelah timbulnya gangguan kesehatan paru-paru dan komplikasi liver pada anggota keluarga akibat efek samping pengobatan medis pada tahun 2017. Pemberian racikan herbal berupa kunyit putih dan jahe merah dilakukan sebagai pendamping perawatan medis berdasarkan izin dari tim medis yang menangani.

“Suami saya pulih dalam waktu sekitar trois bulan,” ungkap Ngatiyem pada Jumat (23/10).

Pemasaran produk awalnya dilakukan secara mandiri melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp dan media sosial Instagram. Kendati demikian, tingkat penjualan sempat mengalami penurunan akibat materi promosi yang dinilai belum bervariasi.

Peluang perbaikan tata kelola usaha diperoleh melalui keikutsertaan dalam program inkubasi UMKM yang memberikan pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk pembuatan materi promosi, diversifikasi produk, hingga perbaikan pencatatan keuangan secara berkala setiap pekan.

“Alhamdulillah ada peningkatan omzet selama ikut inkubasi dan alhamdulillah bertambah reseller,” ujarnya.

Melalui penerapan strategi promosi digital dan penambahan varian produk, pendapatan usaha kini mencatatkan rata-rata sekitar Rp1,5 juta per minggu.

“Pelatihan ini memberikan saya banyak pengetahuan baru. Bukan hanya ide untuk mengembangkan produk, tetapi juga belajar memanfaatkan teknologi dalam promosi,” ungkap Ngatiyem.

“Terpenting dalam pelatihan adalah jejaring dan membangun kebiasaan mengelola usaha secara lebih teratur,” tambahnya.

Penguatan kapasitas pelaku UMKM dinilai menjadi faktor krusial dalam menunjang keberlanjutan usaha. Pelatihan interaktif serta pendampingan yang berfokus pada teknologi dan manajemen keuangan diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar pelaku usaha kecil.

“Yang kita kejar adalah dampak sosial dan pertumbuhan bersama. Pelaku UMKM perlu terus belajar, berinovasi, memanfaatkan potensi lokal, serta membangun jejaring dan kolaborasi,” ujar Sandiaga.

“Kisah Ngatiyem mengembangkan jamu instan H’Dayah menjadi salah satu gambaran upaya pelaku usaha dalam beradaptasi,” ungkap Sandiaga Uno.

“Melalui pembelajaran pemasaran digital, pengembangan produk, dan pencatatan keuangan, pelaku UMKM diharapkan memiliki bekal untuk menjaga keberlanjutan usaha dan memperluas jangkauan pasar,” tambahnya. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *