Dorong Penguatan Ketahanan Kesehatan Nasional Melalui Kerangka 5M
Ilustrasi(Istimewa)

THE 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA) resmi dibuka pada Rabu (21/10) di Jakarta. Mengusung tema “Advancing Health Resilience Through the 5M Framework: Man, Money, Material, Machine, and Methods”, forum yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Ketahanan Kesehatan Indonesia (Pertasindo) yang mempertemukan pembuat kebijakan, praktisi kesehatan militer dan sipil, akademisi, serta pakar internasional untuk membahas strategi penguatan ketahanan kesehatan Indonesia secara terintegrasi.

Selama tiga hari penyelenggaraan, SIERA 2026 menghadirkan simposium, diskusi ilmiah, dan workshop yang membahas berbagai isu strategis, termasuk kebijakan kesehatan berbasis bukti, kesiapsiagaan layanan medis dalam situasi bencana, inovasi teknologi, serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan. 

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, dalam video sambutannya mengatakan ketahanan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional. Menurutnya, pengalaman menghadapi bencana alam, ancaman penyakit menular, dan berbagai krisis kesehatan menunjukkan pentingnya sistem kesehatan yang mampu mengantisipasi, merespons, dan pulih dari berbagai ancaman secara cepat dan efektif.

“Untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional, kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap krisis kesehatan, memperkuat sinergi kesehatan sipil dan militer, mendorong inovasi serta kemandirian teknologi kesehatan, dan membangun kolaborasi global. Ancaman kesehatan tidak mengenal batas wilayah sehingga pertukaran pengetahuan, penelitian bersama, dan kerja sama internasional menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan,” ujarnya dikutip Jumat (23/10).

Ia berharap, SIERA 2026 tidak hanya menjadi forum pertukaran gagasan, tetapi juga menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat kesiapsiagaan dan ketahanan kesehatan Indonesia. Melalui sinergi berbagai pemangku kepentingan, simposium ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Sinergi berbagai pihak juga menjadi aspek penting yang ditekankan oleh Kepala BPOM, Taruna Ikrar. Dalam video sambutannya, ia menegaskan bahwa penguatan ketahanan kesehatan nasional perlu didukung oleh sistem pengawasan yang efektif, inovasi berbasis ilmu pengetahuan, serta kolaborasi lintas sektor. 

“Melalui kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah, saya yakin kita dapat mencapai banyak hal, seperti pengembangan teknologi baru, obat-obatan baru, vaksin baru, dan berbagai inovasi lainnya. Karena itu, saya mengajak seluruh pihak untuk memanfaatkan pendekatan kolaboratif ini sebagai bagian dari upaya pengembangan dan peningkatan kapasitas nasional,” tutur Taruna. 

Ketahanan kesehatan, lanjut dia, tidak hanya berarti kemampuan menghadapi penyakit dan krisis, tetapi juga membangun masyarakat yang mampu menjaga kesehatan di masa depan. 

“Kita perlu menggeser fokus dari mengobati penyakit menjadi mengoptimalkan kesehatan melalui pencegahan sejak dini, pengurangan faktor risiko, dan kemitraan lintas sektor,” sambungnya.

Menambahkan perspektif, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI Tahun 2024, Marsekal TNI (Purn.) Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto menjelaskan bahwa penguatan ketahanan kesehatan nasional membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang terintegrasi, atau lebih luas dari penguatan sistem pelayanan kesehatan. Menurutnya, pengalaman pandemi covid-19 menunjukkan bahwa kesiapsiagaan sangat bergantung pada koordinasi antar lembaga, pembagian peran, serta integrasi sumber daya dan kompetensi dari berbagai sektor. 

“Ketahanan kesehatan nasional bukan sekadar kemampuan menghadapi krisis, tetapi kemampuan bangsa untuk mengantisipasi, merespons, dan pulih. Tidak ada satu institusi atau sektor yang mampu menghadapi tantangan tersebut sendiri. Karena itu, kita membutuhkan tata kelola yang kuat, komitmen lintas sektor, serta aksi kolektif yang terintegrasi dan berkelanjutan,” sebut Hadi.

Ketua Pertasindk Mayjen TNI (Purn.) Dian Andriani Ratna Dewi, menerangkan ketahanan kesehatan nasional semakin penting dalam menghadapi tantangan yang kompleks, mulai dari ancaman penyakit menular, penuaan populasi, perubahan iklim, hingga berbagai persoalan kesehatan lainnya. Untuk membangun ketahanan, diperlukan sinergi lima elemen utama atau 5M framework.

“Kolaborasi lintas sektor dan lintas negara kami wujudkan melalui SIERA III, sebagai wadah menyatukan berbagai pihak dalam kemitraan. Melalui wadah ini, kita dapat mempertemukan para tenaga profesional kesehatan, akademisi, instansi pemerintah dan militer, sektor industri, serta organisasi internasional. Harapannya, kolaborasi ini bisa menjembatani bukti ilmiah dengan kebijakan dan inovasi, serta meningkatkan kualitas kesehatan,” ujarnya.

Di sisi lain, pakar kesehatan internasional, Profesor John Deanfield, menekankan bahwa ketahanan kesehatan perlu dibangun melalui pergeseran pendekatan menuju pencegahan melalui penyesuaian gaya hidup sejak dini yang berbasis pengurangan bahaya. Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan intervensi yang berkelanjutan untuk mengurangi risiko kesehatan dari kebiasaan yang ada di masyarakat, didukung inovasi medis, kebijakan yang tepat, serta kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan industri.

Ia menyoroti pentingnya pendekatan yang realistis dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat agar upaya pencegahan dapat diterapkan secara efektif dan memberikan manfaat jangka panjang. Menurutnya, pencegahan tidak selalu berarti perubahan yang drastis, tetapi dapat dimulai dari langkah-langkah yang lebih mudah diterapkan sehari-hari.

“Dalam survei yang dilakukan kepada 2.000 penduduk Indonesia, 92% mengapresiasi program Cek Kesehatan Gratis yang dilakukan oleh Pemerintah. Di sisi lain, 77% masyarakat Indonesia juga berharap rekomendasi kesehatan dari Pemerintah dapat disesuaikan agar lebih realistis untuk diterapkan,” jelasnya. 

Menurutnya, pendekatan kesehatan perlu menawarkan solusi alternatif bagi masyarakat. Deanfield menambahkan, survei tersebut juga menemukan 82% masyarakat Indonesia percaya bahwa alternatif-alternatif yang lebih baik bisa membantu transisi masyarakat ke gaya hidup yang lebih baik. Contoh dari alternatif-alternatif tersebut antara lain produk rendah atau tanpa gula, beras multigrain, hingga produk tembakau alternatif bagi perokok dewasa yang memilih untuk terus mengonsumsi nikotin.

“Ketahanan kesehatan bukan hanya tentang kemampuan menghadapi penyakit dan krisis, melainkan juga tentang kemampuan menjaga masyarakat tetap sehat dalam jangka panjang. Karena itu, kita perlu menggeser fokus menuju upaya pencegahan yang menawarkan tujuan yang realistis, dapat dicapai, dan didukung oleh bukti ilmiah,” pungkasnya.

Dari perspektif pertahanan, Direktur Kesehatan, Direktorat Jenderal Kekuatan Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Marsekal Pertama TNI dr. Mukti Arja Berlian menekankan pentingnya kesiapan dan penguatan kapasitas kesehatan dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Menurutnya, pengalaman pandemi yang lalu mengajarkan bahwa Indonesia perlu terus mengembangkan pengetahuan, kemampuan, dan kesiapan institusi untuk mengantisipasi berbagai tantangan kesehatan. 

“Ketahanan kesehatan dan kesehatan pertahanan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga kita perlu memahami keduanya secara tepat. Tantangan kesehatan yang terus berkembang harus dihadapi dengan kesiapan dan penguatan kapasitas nasional. Kita tidak bisa hanya diam, tetapi harus terus belajar dan mengembangkan kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut,” papar Mukti.

Senada, Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama, Kelembagaan, Inovasi, dan Teknologi Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Laksda TNI Dr. Buddy Susetyo, turut menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan kesehatan nasional. 

“Ketahanan kesehatan merupakan fondasi utama kedaulatan bangsa. Tanpa ketahanan kesehatan yang tangguh, tidak mungkin tercipta stabilitas di tengah berbagai tantangan global saat ini. Ketahanan kesehatan kini merupakan isu strategis bagi pertahanan dan ketahanan nasional,” tandasnya. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *