
KUALITAS udara di wilayah Kalimantan Selatan kembali memburuk dan berada di level Berbahaya (hitam). Kondisi ini dipicu oleh semakin meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pekatnya kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di provinsi tersebut.
Berdasarkan data Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan, pemantauan konsentrasi partikulat PM2.5 pada 22 Oktober 2026 menunjukkan rata-rata harian sebesar 122.3 µgram/m3. Namun, lonjakan drastis terjadi pada pukul 06.00 WITA dengan konsentrasi tertinggi mencapai 501.7 µgram/m3, yang masuk dalam kategori Berbahaya.
Kritik Atas Lambannya Mitigasi
Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Prof. Dr. Husaini, menilai pemerintah lamban dalam melakukan mitigasi risiko Super El Nino atau “El Nino Godzilla”. Padahal, lembaga internasional seperti WMO dan BMKG telah memberikan peringatan dini sejak awal tahun mengenai potensi kemarau dan kekeringan ekstrem.
“Karhutla yang terjadi berbulan-bulan berdampak pada gangguan kesehatan akut seperti ISPA, serta kerugian ekonomi, sosial, dan pendidikan. Bahkan, kerusakan ekosistem gambut membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih,” ujar Husaini pada Jumat (23/10).
Ia menambahkan bahwa dampak ikutan dari fenomena ini tidak hanya karhutla, tetapi juga krisis air bersih dan gagal panen yang memicu kenaikan harga pangan pokok.
Kegagalan Struktural dan Paradigma Firefighter Syndrome
Husaini menyoroti adanya tumpang tindih kewenangan dan lemahnya koordinasi antara Kementerian Kehutanan, BNPB, Pemerintah Daerah, dan pemangku kepentingan lainnya. Ia menyebut kebijakan pemerintah cenderung reaktif dengan menghabiskan anggaran untuk operasional pemadaman darurat ketimbang pencegahan struktural.
- Tumpang tindih kewenangan dan lemahnya koordinasi antarlembaga.
- Bias kebijakan reaktif (anggaran habis untuk pemadaman, bukan pencegahan).
- Kegagalan restorasi gambut; hanya 3% lahan bekas terbakar yang kembali menjadi hutan.
- Paradigma Firefighter Syndrome dan sikap defensif pemerintah dalam menetapkan status bencana nasional.
Ancaman Krisis Multigenerasi
Dampak jangka panjang dari pajanan polusi udara kronis ini dinilai mengancam visi Indonesia Emas 2045. Jutaan anak Indonesia berisiko mengalami gangguan kesehatan permanen akibat partikel PM2.5 yang terkandung dalam asap karhutla.
Panas ekstrem akibat Super El Nino juga menciptakan fenomena silent death (pembunuh senyap). Ketika suhu atmosfer melampaui batas toleransi tubuh manusia, mekanisme pendinginan alami tubuh akan gagal, yang memberikan beban berat pada jantung dan pembuluh darah. Masyarakat kini menghadapi double burden atau beban ganda: terpapar panas ekstrem sekaligus menghirup asap beracun.
Selain itu, rusaknya hidrologi gambut yang telah berlangsung puluhan tahun serta lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan ekologi memperburuk situasi karhutla yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (H-2)
