Kebakaran Hutan Hebat Melanda Pulau Papua akibat El Niño 2026
Emisi di kedua sisi pulau sangat tinggi karena kebakaran yang disebabkan manusia menyebar di lanskap yang kering akibat kekeringan.(NASA Earth)

KEBAKARAN hutan dan lahan parah melanda seluruh kawasan Pulau Papua, baik wilayah Indonesia di bagian barat maupun Papua Nugini di bagian timur, selama September hingga Oktober 2026. Fenomena iklim El Niño yang kuat menjadi pemicu utama kekeringan ekstrem yang membakar lanskap pulau terbesar kedua di dunia tersebut.

Citra satelit Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) pada satelit NOAA-20 merekam kepulan asap pekat yang membumbung tinggi dari bagian selatan Pulau Papua. Asap tebal ini menyebabkan penurunan kualitas udara secara drastis, memicu penutupan sekolah, pembatalan penerbangan, hingga menghentikan aktivitas warga lokal.

ilmuwan riset asosiasi di Goddard Institute for Space Studies NASA dan Columbia University, Robert Field, menuturkan kondisi buruk yang dialami masyarakat terdampak.

“Kadang-kadang asap yang terseret ke dalam konveksi badai petir di dekatnya akan terhanyut atau terangkat ke troposfer atas, tetapi sebagian besar asap tetap berada di dekat permukaan dan menyebabkan masalah kualitas udara. Ini situasi yang mengerikan,” kata Robert Field.

Rekor Emisi Karbon Tertinggi

Berdasarkan data Global Fire Emissions Database (GFED), kebakaran di wilayah Papua Nugini telah melepaskan hampir 32 megaton karbon hingga pertengahan Oktober 2026. Angka ini memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah di wilayah tersebut.

“Emisi ini sudah jauh lebih tinggi daripada total emisi tahun 2015 untuk keseluruhan tahun, dan sangat mungkin ini akan menjadi tahun tertinggi dalam catatan untuk Papua Nugini, bahkan melampaui tahun 1997,” kata Guido van der Werf, ilmuwan kebakaran dari Wageningen University & Research.

Kondisi serupa dialami wilayah Indonesia (Papua Barat/Papua Selatan). Emisi karbon di wilayah ini telah melampaui 35 megaton, mencatatkan rekor tertinggi ketiga setelah periode El Niño hebat pada 1997 dan 2015.

Kekeringan parah akibat pergeseran pola curah hujan El Niño membuat ekosistem pulau ini sangat mudah terbakar. Layanan Cuaca Nasional Papua Nugini mencatat kawasan sabana Trans-Fly di selatan bahkan tidak mengalami hujan selama lebih dari 90 hari berturut-turut. Curah hujan di wilayah tersebut sejak Agustus hanya mencapai 5 hingga 10 persen dari kondisi normal.

Aktivitas Manusia dan Garda Depan Deforestasi

Meskipun iklim kering menciptakan kondisi rentan, para peneliti menegaskan aktivitas manusialah yang menjadi pemantik utama api. Pembukaan lahan pertanian, pembersihan padang rumput, deforestasi, hingga aktivitas berburu sering menggunakan metode pembakaran yang tak terkendali hingga meluas menjadi kebakaran hutan liar.

Asosiasi peneliti di University of California, Irvine, Yang Chen, menyoroti pergeseran tren deforestasi di wilayah Indonesia.

“Kami melihat tingkat aktivitas kebakaran yang sangat tinggi di Papua Nugini dan Indonesia bagian timur, khususnya Papua Indonesia dan Kalimantan, tahun ini dibandingkan dengan Sumatra dan bagian lain Indonesia bagian barat. Papua telah muncul sebagai garda depan deforestasi baru di Indonesia,” kata Yang Chen.

Data Global Forest Watch menunjukkan Papua Indonesia kehilangan 27.000 hektare hutan primer pada tahun 2025, hampir dua kali lipat dibanding tahun 2024 akibat pembukaan lahan untuk kelapa sawit, kayu pulp, pertanian skala kecil, dan pertambangan.

Berbeda dengan Sumatra yang memiliki tim pemadam kebakaran swasta dari perkebunan besar untuk melindungi aset mereka, kawasan hutan primer dan area tak terkelola di Papua jauh lebih rentan terbakar. Para peneliti memperkirakan kebakaran hutan dan kabut asap ini baru akan mereda saat hujan lebat musim basah tiba pada awal November. (NASA/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *