
RATUSAN personel tim gabungan hingga Jumat pagi (23/10) masih berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Petugas di lapangan terus melakukan penyisiran titik api sekaligus membangun sekat bakar guna menahan laju perambatan api agar tidak meluas ke area hutan lainnya.
“Lebih dari 900 personel gabungan dari berbagai unsur dikerahkan untuk menangani kebakaran tersebut,” tegas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Indra Bayu, saat memberikan keterangan di kawasan TNGC Kuningan, dikutip dari Antara, Jumat (23/10)
Indra menjelaskan, ratusan personel yang menerjunkan unsur TNI, Polri, relawan, pemadam kebakaran, serta tim BPBD dari berbagai daerah dialokasikan secara tersebar berdasarkan koordinat titik api yang terdeteksi. Fokus penanganan saat ini terkonsentrasi di beberapa titik krusial, meliputi Blok Bintangot, Panyusupan, Batu Arca, Karang Dinding, hingga kawasan Bukit 1.000 Bintang.
Di lapangan, petugas menerapkan strategi pemadaman langsung apabila kondisi medan memungkinkan. Namun, pada titik-titik yang berisiko tinggi, tim mengutamakan pembuatan sekat bakar yang disesuaikan dengan kontur dan karakteristik wilayah.
“Upaya salah satunya adalah pembuatan sekat bakar disesuaikan dengan situasi kondisi di lapangan,” ujar Indra.
Proses pemadaman karhutla kali ini menguras tenaga lantaran tim harus menembus medan ekstrem di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ketinggian dan terjalnya tebing menjadi kendala utama yang menyulitkan mobilisasi peralatan serta akses fisik para petugas.
“Ini termasuk yang cukup besar karena berada pada ketinggian di atas 1.000 sekarang,” katanya menambahkan.
Selain faktor topografi yang curam, embusan angin kencang yang sering kali berubah arah secara mendadak turut memicu cepatnya pergerakan lidah api. Kondisi cuaca dinamis tersebut memaksa petugas ekstra waspada dan harus terus menyesuaikan metode pemadaman di tiap titik.
Mengenai pemicu awal, kebakaran pertama kali terpantau muncul di kawasan zona tradisional yang masih bersinggungan dengan aktivitas masyarakat lokal. Kendati demikian, penyebab pasti penyulut api hingga kini masih dalam tahap penyelidikan pihak berwenang.
Pemerintah daerah dan tim penanggulangan memprioritaskan barikade pemadaman agar kobaran api tidak menerobos dari zona tradisional menuju zona rimba, apalagi sampai memasuki zona inti pelestarian Taman Nasional Gunung Ciremai.
“Status penanganan masih berada pada tahap siaga darurat dan pemerintah daerah akan mengevaluasi perkembangan kebakaran dalam satu hingga dua hari ke depan sebelum memutuskan perubahan status,” pungkas Indra.
(Ant/P-4)
