Tips Merawat Kulit saat Kabut Asap: Cegah Kulit Kering, Iritasi, dan Berjerawat
Polusi udara dapat memengaruhi kulit dalam berbagai cara, mulai dari memicu peradangan dan kekeringan hingga meningkatkan sensitivitas.(iStock/CNA)

APAKAH belakangan ini kulit kulit sahabat Jelita bermasalah? Misalnya, jerawat yang tiba-tiba muncul, bercak kulit kering, atau kemerahan yang tak kunjung hilang. Jika kondisi kulit terasa berbeda dari biasanya, kabut asap bisa menjadi salah satu penyebabnya.

Saat kabut asap semakin pekat, kulit kita menghadapi lebih dari sekadar lapisan polutan yang mengganggu. Polusi udara dapat memengaruhi kulit dalam berbagai cara, mulai dari memicu peradangan dan kekeringan hingga meningkatkan sensitivitas.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi ketika kabut asap mengenai kulit? Adakah yang bisa dilakukan selain membeli lebih banyak produk perawatan kulit?

Menurut dokter estetika sekaligus pendiri The Skin Longevity Clinic, Dr. Rachel Ho, partikel mikroskopis di udara yang terkandung dalam kabut asap, seperti PM2.5 dan PM10, dapat membawa senyawa kimia yang berpotensi berbahaya, yang dikenal sebagai hidrokarbon aromatik polisiklik atau polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH).

“Ketika partikel-partikel ini menempel pada kulit, partikel tersebut berinteraksi dengan sel kulit dan mengaktifkan reseptor seluler yang disebut aryl hydrocarbon receptor (AhR),” jelasnya.

Penelitian menunjukkan bahwa interaksi tersebut dapat memicu produksi spesies oksigen reaktif atau reactive oxygen species (ROS), yakni molekul tidak stabil yang berkontribusi terhadap stres oksidatif, serta molekul pemberi sinyal peradangan.

Sederhananya, stres oksidatif terjadi ketika molekul tidak stabil tersebut melampaui kemampuan pertahanan antioksidan alami kulit. Kondisi ini berpotensi merusak sel dan struktur kulit.

Dalam jangka panjang, paparan polusi udara yang berulang dapat berkontribusi terhadap kerusakan kolagen dan elastin, dua komponen yang menjaga kulit tetap kencang dan kenyal. Polusi juga dapat melemahkan lapisan pelindung kulit atau skin barrier. Akibatnya, kulit lebih mudah kehilangan kelembapan sehingga terasa kering, kencang, kemerahan, dan sensitif.

Polusi udara juga dikaitkan dengan kambuhnya kondisi kulit akibat peradangan, terutama eksim. Sejumlah penelitian menemukan kemungkinan hubungan antara polusi dan jerawat, meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan seberapa besar pengaruh kabut asap terhadap munculnya jerawat.

Namun, tidak semua masalah kulit disebabkan oleh kabut asap. Stres, perubahan hormon, dan produk perawatan kulit juga dapat menjadi pemicunya.

Kabar baiknya, ada sejumlah cara untuk membantu menjaga kesehatan kulit selama musim kabut asap. Mulai dari mengatasi stres oksidatif hingga mencegah jerawat akibat pemakaian masker, berikut saran Dr. Ho untuk merawat kulit selama periode tersebut.

Mengatasi Stres Oksidatif

Sebelum menambahkan lima serum baru ke dalam rutinitas perawatan kulit, ada baiknya memahami langkah-langkah yang dapat membantu melindungi kulit.

Tabir surya tetap penting digunakan pada siang hari. Meski tidak secara langsung melindungi kulit dari polutan di udara, tabir surya dapat membantu mengurangi pembentukan ROS akibat paparan sinar ultraviolet (UV).

Dengan kata lain, jangan melewatkan penggunaan tabir surya meskipun langit terlihat mendung atau kelabu.

Perlindungan kulit juga tidak hanya bergantung pada produk yang dioleskan ke permukaannya. Pola makan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan kulit.

Dr. Ho menjelaskan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa asupan vitamin C dan E secara teratur melalui makanan dapat membantu mengurangi stres oksidatif pada kulit.

Karena itu, konsumsilah bahan pangan segar yang mengandung kedua vitamin tersebut, seperti jeruk, jeruk bali, dan kacang almon.

Cara Merawat Kulit selama Musim Kabut Asap

Ketika kulit terasa iritasi, kita mungkin tergoda menggunakan lebih banyak produk dengan harapan memberikan perlindungan ekstra. Namun, menurut Dr. Ho, perawatan yang sederhana sering kali lebih baik.

Alih-alih menggunakan terlalu banyak produk, fokuslah pada dua hal: mengurangi paparan polutan di udara dan menjaga lapisan pelindung kulit.

Rutinitas sederhana dapat mencakup penggunaan pembersih wajah yang lembut dan pelembap yang mendukung fungsi lapisan pelindung kulit, kemudian diikuti tabir surya berspektrum luas pada siang hari.

Bahan antioksidan seperti niasinamida juga dapat membantu. Namun, efektivitasnya dalam mencegah kerusakan kulit akibat kabut asap pada manusia masih belum dapat dipastikan.

Jika kulit membutuhkan perawatan tambahan, Dr. Ho menyarankan beberapa bahan yang bisa dipertimbangkan. Ceramide membantu memperkuat lapisan pelindung kulit, sedangkan asam hialuronat dan faktor pelembap alami atau natural moisturising factors (NMF) membantu mempertahankan kelembapan.

Niasinamida, salah satu bentuk vitamin B3, juga dapat mendukung fungsi lapisan pelindung kulit dan membantu meredakan peradangan.

Meskipun mungkin terasa perlu untuk lebih sering mencuci wajah demi menghilangkan polutan, membersihkan kulit secara berlebihan dapat menghilangkan minyak alami dan memperburuk iritasi.

Bagi kebanyakan orang, mencuci wajah dua kali sehari dan setelah berkeringat banyak sudah cukup.

Rutinitas perawatan kulit bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Mengurangi paparan polutan di udara juga dapat membantu, terutama ketika kualitas udara memburuk.

Dr. Ho menyarankan penggunaan alat pemurni udara di dalam ruangan jika memungkinkan. Pel juga lantai dan bersihkan permukaan perabot menggunakan kain lembap untuk menangkap debu yang mengendap.

Alat pemurni udara dengan filter HEPA yang sesuai dengan ukuran ruangan dapat membantu mengurangi partikel halus di dalam ruangan.

Mengatasi Jerawat dan Eksim

Bagi orang yang sudah memiliki masalah jerawat atau eksim, musim kabut asap dapat menambah tantangan dalam merawat kulit.

Polutan di udara dapat memperburuk peradangan. Sementara itu, lapisan pelindung kulit yang melemah dapat membuat kulit lebih kering dan sensitif dari biasanya. Kondisi ini juga dapat menyebabkan kulit lebih sulit menoleransi sejumlah perawatan jerawat, termasuk retinoid.

Jika iritasi semakin parah atau obat yang diresepkan dokter justru menimbulkan ketidaknyamanan lebih besar dari biasanya, Dr. Ho menyarankan untuk mencari bantuan medis, terutama jika rutinitas perawatan yang sedang dijalani tidak menunjukkan hasil.

Konsultasikan dengan dokter sebelum mengubah penggunaan obat yang diresepkan.

Hindari keinginan untuk menggunakan semua produk antijerawat yang dimiliki sekaligus. Kulit mungkin justru membutuhkan perawatan yang lebih lembut, bukan tambahan bahan aktif lainnya.

Maskne: Ketika Masker Menjadi Masalah bagi Kulit

Menggunakan masker yang pas di wajah dapat membantu mengurangi paparan partikel halus di udara. Namun, menutupi wajah selama berjam-jam juga dapat menimbulkan masalah kulit tersendiri.

Menurut Dr. Ho, penggunaan masker dalam waktu lama dapat memerangkap air liur, panas, kelembapan, dan polutan. Kondisi ini berpotensi mengganggu lapisan pelindung kulit serta memicu iritasi akibat kontak dengan bahan tertentu atau memperburuk jerawat.

Untuk mengurangi iritasi, ia menyarankan agar pengguna mengambil jeda dari pemakaian masker jika memungkinkan. Selama kabut asap, lakukan hal tersebut di lingkungan dalam ruangan yang bersih dan memiliki penyaringan udara, serta hanya ketika masker aman untuk dilepas.

Membersihkan wajah dengan lembut setelah memakai masker dalam waktu lama juga dapat membantu menghilangkan keringat dan minyak yang menumpuk.

Namun, hindari mencuci wajah secara berlebihan karena hal itu justru dapat memperparah iritasi.

Kurangi Eksfoliasi Berlebihan

Jika ada satu kebiasaan perawatan kulit yang perlu dievaluasi ketika kulit sedang sensitif, kebiasaan itu adalah eksfoliasi berlebihan. Ekspoliasi adalah proses perawatan kulit yang bertujuan untuk mengangkat tumpukan sel kulit mati dan kotoran dari lapisan terluar kulit (stratum korneum).

“Eksfoliasi berlebihan dapat merusak lapisan pelindung kulit secara fisik jika Anda menggunakan scrub, asam berkonsentrasi tinggi, atau spikula,” jelas Dr. Ho.

Karena itu, saat kulit sedang bermasalah, sebaiknya jangan mencoba produk eksfoliasi baru yang keras atau menjalani perawatan yang lebih intensif daripada biasanya.

Jika rutinitas perawatan yang biasa dilakukan mulai menimbulkan iritasi atau peradangan, Dr. Ho menyarankan untuk menghentikan sementara penggunaan bahan aktif yang berpotensi mengiritasi, seperti asam eksfoliasi dan retinoid yang dijual bebas. Langkah ini dapat memberi waktu bagi lapisan pelindung kulit untuk pulih.

Setelah kondisi kulit membaik, bahan-bahan tersebut dapat digunakan kembali secara bertahap. Jika Anda menggunakan obat resep, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum melakukan perubahan.

Jika kulit tetap kering, mengelupas, atau gatal meskipun telah menjalani rutinitas perawatan seperti biasa, sebaiknya cari saran medis. Hal yang sama berlaku jika eksim atau jerawat semakin parah, terutama apabila jerawat meninggalkan bekas luka atau gejalanya mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kita mungkin tidak dapat mengendalikan kabut asap, tetapi ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga kulit tetap sehat. Sederhanakan rutinitas perawatan, utamakan hidrasi dan perlindungan lapisan kulit, serta tahan keinginan untuk menggunakan semua produk yang tersedia di kamar mandi ketika jerawat tiba-tiba muncul.

Kulit Anda akan berterima kasih atas perawatan tersebut. (CNA/B-3)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *