
PULUHAN jet tempur Israel dilaporkan melakukan manuver militer mendekati perbatasan Iran dalam operasi yang diduga bertujuan memancing respons militer Teheran. Langkah tersebut berisiko meningkatkan ketegangan dan membuka peluang pecahnya kembali perang antara kedua negara.
Media Israel Channel 12 melaporkan, operasi itu berlangsung pada Senin (19/10) hingga Selasa (20/10), dengan mengutip sejumlah sumber Amerika Serikat (AS) yang mengetahui manuver tersebut.
Dalam operasi itu, puluhan jet tempur Israel disebut terbang bersama pesawat pengisian bahan bakar. Rombongan pesawat tersebut melintasi wilayah udara Suriah dan Irak sebelum berbalik menuju Israel setelah mendekati perbatasan Iran.
Berdasarkan keterangan sumber-sumber AS tersebut, Israel diduga berharap militer Iran akan menembaki pesawat-pesawat tersebut. Jika respons itu terjadi, Teheran berpotensi dianggap sebagai pihak yang memulai konfrontasi, sehingga dapat dijadikan alasan untuk melancarkan serangan balasan.
Pejabat AS dan Israel menggambarkan manuver tersebut sebagai latihan pencegahan. Namun, operasi itu tetap mengandung risiko karena kesalahan perhitungan atau respons yang tidak diperkirakan dapat memicu eskalasi militer.
Sumber-sumber AS menyebut Israel telah memberi tahu Washington sebelum operasi berlangsung. Israel menjelaskan bahwa manuver itu bertujuan memperlihatkan kemampuan militernya sekaligus mengirimkan pesan pencegahan kepada Iran.
Israel juga disebut menyadari bahwa sistem pertahanan udara Iran akan mendeteksi keberadaan pesawat-pesawat tempur tersebut.
Kunjungan Menteri Pertahanan AS ke Israel
Operasi udara itu berlangsung bersamaan dengan kunjungan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth ke Israel. Dalam kunjungan tersebut, Hegseth bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz di Pangkalan Udara Ovda.
Pada hari yang sama, perkembangan lain terkait rencana serangan Israel terhadap Iran turut terungkap melalui laporan Financial Times pada Rabu (21/10).
Mengutip tiga sumber yang mengetahui rencana tersebut, media itu melaporkan bahwa Netanyahu telah memerintahkan militer Israel mempersiapkan serangan besar-besaran baru terhadap Iran pada awal bulan ini.
Militer Israel dilaporkan telah menyusun rencana kampanye serangan selama beberapa hari. Sasaran yang dipertimbangkan mencakup fasilitas nuklir Iran, lokasi yang berkaitan dengan pemerintahan, serta infrastruktur sipil, termasuk pembangkit listrik.
Serangan udara tersebut semula dijadwalkan berlangsung pada 10 Oktober. Namun, rencana itu dibatalkan setelah Presiden AS Donald Trump menentang dimulainya kembali perang menjelang pemilihan paruh waktu AS yang dijadwalkan pada 3 November.
Risiko Kembali Memanas
AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah wilayah.
Konflik tersebut tidak hanya meningkatkan ancaman keamanan di kawasan, tetapi juga berdampak terhadap jalur perdagangan dan pelayaran internasional.
Sementara itu, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Sementara itu, Washington memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Di tengah situasi tersebut, manuver puluhan jet tempur Israel di dekat perbatasan Iran menambah kekhawatiran akan kemungkinan meningkatnya kembali konfrontasi militer.
Meski operasi tersebut disebut sebagai langkah pencegahan, dugaan upaya memancing respons Iran serta laporan mengenai persiapan serangan baru menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara masih jauh dari mereda. (Fer/I-1)
