
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (23/10) sore ditutup menguat. Pergerakan indeks didorong oleh respons positif pelaku pasar terhadap kebijakan regulator yang akan mengecualikan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks.
IHSG mengakhiri perdagangan dengan kenaikan 51,36 poin atau 0,95 persen ke posisi 5.439,26. Sementara itu, indeks kelompok 45 saham unggulan (LQ45) juga menguat 2,48 poin atau 0,46 persen ke level 547,05.
Reformasi Indeks dan Kebijakan HSC
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa penguatan IHSG dipicu oleh langkah reformasi bursa. BEI berencana mengecualikan 80 saham yang masuk kategori HSC dari perhitungan indeks komposit mulai 2 November 2026.
Langkah ini diambil menyusul peringatan dari MSCI mengenai risiko penurunan peringkat ekuitas Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Selain kebijakan HSC, BEI juga menerapkan inisiatif penambahan keterangan afiliasi saham dengan kepemilikan minimal 1 persen serta penyesuaian batas Auto Rejection Bawah (ARB) asimetris sebesar 7 persen hingga akhir tahun 2026.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menjatuhkan denda total senilai Rp2,1 triliun terhadap sejumlah emiten HSC atas pelanggaran hukum pasar modal:
- DSSA: Rp1,5 triliun
- BREN: Rp500 miliar
- CUAN: Rp100 miliar
Sentimen Danantara dan Global
Dari sisi domestik, pasar juga menantikan langkah investasi Danantara Indonesia. Intervensi Danantara dipandang sebagai katalis positif bagi saham-saham BUMN yang saat ini memiliki valuasi murah namun prospek jangka panjang yang menjanjikan.
Namun, penguatan IHSG dibayangi oleh sentimen negatif global. Aksi jual besar-besaran melanda sektor teknologi akibat kekhawatiran atas keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Houthi di Laut Merah serta potensi serangan baru terhadap Iran meningkatkan risiko inflasi global akibat gangguan pasokan energi.
Statistik Perdagangan
| Indikator | Nilai/Jumlah |
|---|---|
| Frekuensi Transaksi | 1,80 juta kali |
| Volume Saham | 43,14 miliar lembar |
| Nilai Transaksi | Rp16,16 triliun |
| Saham Menguat / Melemah | 506 / 192 |
Secara sektoral, sepuluh sektor menguat dipimpin oleh sektor barang konsumen primer (3,24%), diikuti sektor industri (2,95%) dan energi (2,74%). Hanya sektor kesehatan yang mencatat pelemahan sebesar 0,15 persen. Saham-saham top gainers hari ini meliputi WMUU, FAST, PTSP, TOBA, dan KONI. (Ant/H-4)
