
DI sebuah ruang dengan akses terbatas, sejumlah perempuan duduk menunggu giliran menjalani bone scanning. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kemungkinan penyebaran sel kanker ke tulang. Sambil menunggu, mereka berbincang. Sesekali terdengar tawa. Bukan lantaran cerita yang benar-benar lucu, melainkan karena mereka mencoba mencairkan suasana di tengah kenyataan yang tidak mudah diterima. Mereka mungkin tidak saling mengenal sebelumnya. Namun, ada satu hal yang membuat mereka terasa dekat. Ketika pertanyaan ‘kanker apa?’ dilontarkan, sebagian besar memberikan jawaban yang sama: kanker payudara.
MASIH MENJADI ANCAMAN
Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 2,3 juta kasus baru kanker payudara pada 2022, atau sekitar 11,7% dari seluruh kasus kanker. Pada tahun yang sama, penyakit ini menyebabkan sekitar 670.000 kematian.
Beban penyakit ini diperkirakan terus meningkat. WHO memproyeksikan jumlah kasus baru kanker payudara dapat mencapai sekitar 3,55 juta pada 2050, dengan angka kematian sekitar 1,14 juta. Indonesia pun menghadapi persoalan serupa. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan) 2020, terdapat 65.858 kasus baru kanker payudara di Indonesia. Angka tersebut mencapai 16,6% dari total kasus kanker yang tercatat pada tahun itu. Kematian akibat kanker payudara diperkirakan mencapai sekitar 22.000 kasus.
Besarnya beban penyakit tersebut mendorong para peneliti terus mencari pendekatan baru untuk mencegah dan mengobati kanker, termasuk menemukan senyawa yang berpotensi dikembangkan menjadi obat.
DARI TUMBUHAN HINGGA MIKROORGANISME
Pencarian kandidat obat antikanker tidak hanya dilakukan terhadap senyawa sintetis. Alam juga menjadi sumber penting dalam penemuan obat. Berbagai senyawa yang berasal dari tumbuhan telah diteliti karena memiliki aktivitas biologis yang berpotensi menghambat pertumbuhan sel kanker, di antaranya alkaloid, flavonoid, terpenoid, lignan, dan polifenol. Beberapa senyawa tersebut ditemukan pada tanaman yang cukup dikenal, seperti teh hijau, kunyit, jahe, biji rami, delima, dan sirsak.
Salah satu contoh keberhasilan pemanfaatan senyawa tumbuhan sebagai obat kanker berasal dari tapak dara (Catharanthus roseus). Senyawa vinblastine dan vincristine yang termasuk kelompok alkaloid vinka digunakan dalam terapi kanker karena dapat menghambat pembelahan sel.
Sumber kandidat obat juga datang dari dunia mikroorganisme. Sejumlah bakteri, aktinomisetes, kapang, dan jamur diketahui mampu menghasilkan metabolit sekunder yang memiliki aktivitas biologis, termasuk potensi antikanker. Beberapa senyawa antikanker yang telah dimanfaatkan dalam pengobatan, seperti doksorubisin, epirubisin, aktinomisin, dan bleomisin, berkaitan dengan produk metabolisme mikroorganisme.
POTENSI KOLEKSI INACC
Peluang tersebut menjadi salah satu alasan koleksi mikroorganisme penting bagi penelitian obat. Indonesian Culture Collection (InaCC), yang dikelola Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bukan sekadar tempat menyimpan dan melestarikan mikroorganisme. Koleksi tersebut juga menjadi sumber material biologis untuk berbagai penelitian dan pengembangan inovasi.
Hingga Agustus 2026, InaCC memiliki 5.948 koleksi mikroorganisme. Koleksi itu terdiri atas bakteri, kapang atau jamur, aktinomisetes, khamir, arkea, mikroalga, dan bakteriofag. Salah satu koleksi yang menarik perhatian peneliti ialah jamur Phomopsis dengan nomor koleksi InaCC F1033. Penelitian terhadap jamur tersebut dilakukan Husnawati dan tim. Koleksi Phomopsis itu sebelumnya didepositkan oleh Indriati Ramadhani dan tim peneliti BRIN pada 2019.
Yang menarik, Phomopsis tersebut merupakan jamur endofit yang diisolasi dari jaringan daun sirsak (Annona muricata). Selama ini, daun sirsak diketahui mengandung sejumlah senyawa, antara lain alkaloid, tanin, dan saponin, yang telah banyak diteliti karena potensinya dapat membunuh sel kanker. Dari sini muncul pertanyaan: apakah mikroorganisme yang hidup di dalam jaringan tanaman tersebut juga mampu menghasilkan senyawa yang memiliki aktivitas antikanker? Pertanyaan itulah yang kemudian ditelusuri lebih jauh.
16 Senyawa Potensial
Beberapa penelitian melaporkan adanya bahan aktif yang terkandung dalam jamur Phomopsis sebagai antikanker. Pada 2017, Minarni dan kawan-kawan telah mengujikan ekstrak etil asetat dari Phomopsis terhadap sel MCF-7, yakni lini sel kanker payudara manusia yang lazim digunakan sebagai model penelitian di laboratorium. Hasilnya menunjukkan ekstrak tersebut memiliki aktivitas penghambatan yang kuat terhadap sel MCF-7, dengan nilai IC50 kurang dari 20 ppm. IC50 merupakan ukuran konsentrasi suatu zat yang dibutuhkan untuk menghambat aktivitas atau pertumbuhan sel hingga 50 persen. Semakin kecil nilainya, semakin kuat aktivitas penghambatan yang ditunjukkan dalam pengujian tersebut.
Di tahun yang sama, Asyura bersama tim telah melakukan pengujian terhadap hewan uji tikus Sprague-Dawley yang mengalami kanker payudara. Pemberian ekstrak Phomopsis dengan dosis 20 mg/kgBW menunjukkan penurunan jumlah dan volume nodul atau tumor. Lebih lanjut dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2023, Husnawati dan tim berhasil mengidentifikasi 16 senyawa aktif yang dihasilkan Phomopsis. Sejumlah senyawa tersebut menunjukkan potensi sebagai kandidat antikanker payudara.
Dalam penelitian ini terdapat temuan yang menarik. Melalui pendekatan molecular docking dan molecular dynamic simulation, sejumlah senyawa utama dalam ekstrak Phomopsis diperkirakan memiliki kemampuan berinteraksi dengan reseptor HER2. HER2 merupakan salah satu protein yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan sel kanker payudara. Aktivitas HER2 yang berlebihan berkaitan dengan kanker payudara yang lebih agresif.
JALAN PANJANG MENUJU OBAT
Temuan tersebut tentu membuka peluang baru dalam pencarian kandidat obat kanker dari mikroorganisme Indonesia. Namun, ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi: Phomopsis belum dapat disebut sebagai obat kanker payudara. Penelitian tersebut masih berada pada tahap praklinis. Hasil yang menjanjikan dari pengujian di laboratorium dan hewan belum otomatis berarti senyawa tersebut aman dan efektif digunakan pada manusia. Diperlukan serangkaian penelitian lanjutan berupa pengujian keamanan, pengembangan formulasi, hingga uji klinis pada manusia.
Kolaborasi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan industri farmasi menjadi penting agar potensi yang tersimpan dalam koleksi mikroorganisme Indonesia dapat terus dikembangkan. Bagi para penyintas dan mereka yang sedang menjalani pengobatan kanker payudara, riset semacam ini menjadi pengingat bahwa pencarian terapi yang lebih baik terus berlangsung. Dari ruang laboratorium hingga koleksi mikroorganisme yang tersimpan di InaCC, alam menyimpan begitu banyak kemungkinan yang masih harus terus dipelajari.
