Menkes: Perubahan Demografi Picu Kebutuhan Tinggi Dokter Saraf dan Jantung
MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.(Dok. Metro Tv)

MENTERI Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti tantangan besar dalam pengadaan dan distribusi tenaga medis di Indonesia, mulai dari dokter umum hingga dokter sub-spesialis. Pemerintah kini tengah melakukan percepatan produksi dan distribusi dokter spesialis guna mengejar ketertinggalan di berbagai daerah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sebanyak 87% wilayah atau 446 kabupaten/kota di Indonesia masih kekurangan dokter umum. Jika tidak ada langkah percepatan, diprediksi akan terjadi celah (gap) kebutuhan hingga 93 ribu dokter pada tahun 2032.

Kondisi serupa terjadi pada tenaga medis spesifik lainnya. Sebanyak 490 kabupaten/kota masih kekurangan dokter gigi dengan total kebutuhan mencapai 127 ribu orang. Sementara itu, 481 kabupaten/kota kekurangan dokter spesialis dengan total kebutuhan mencapai 55 ribu personel.

Perubahan Pola Demografi dan Epidemiologi

Menkes Budi menjelaskan bahwa sejak tahun 2024, perencanaan kebutuhan dokter spesialis di Indonesia mulai disusun berdasarkan pola demografi. Ia mencatat adanya pergeseran signifikan pada struktur populasi masyarakat Indonesia.

“Sejak dulu Indonesia memang tidak pernah membuat perencanaan kebutuhan dokter spesialis. Tapi sejak 2024 dibuat berdasarkan pola demografi,” ujar Budi dalam peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Menurutnya, pada masa lalu, populasi Indonesia didominasi oleh ibu hamil, bayi, dan balita. Hal ini menyebabkan fokus produksi tenaga medis lebih banyak diarahkan pada dokter spesialis anak dan spesialis obgyn (kebidanan dan kandungan).

Namun, saat ini porsi penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia sudah melampaui jumlah balita. Di beberapa kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta, populasi penduduk berusia di atas 60 tahun tercatat lebih banyak dibandingkan usia anak-anak.

Kebutuhan Dokter Spesialis Saraf dan Jantung Meningkat

Perubahan demografi ini secara otomatis mengubah pola epidemiologi atau jenis penyakit yang paling banyak diderita masyarakat. Jika dulu angka kematian tertinggi berkaitan dengan proses kelahiran ibu, saat ini penyebab kematian utama telah bergeser ke penyakit degeneratif.

“Sekarang perlu banyak dokter spesialis jantung, spesialis penyakit dalam, spesialis saraf. Itu banyak dibutuhkan karena pola demografinya berubah, pola epidemiologinya pun berubah,” jelas Budi.

Ia mencontohkan bahwa saat ini stroke menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi. Secara logika, hal ini menuntut ketersediaan dokter spesialis saraf yang lebih banyak dibandingkan dokter spesialis anak atau obgyn.

Menkes menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh tinggal diam menghadapi situasi ini. “Kekurangannya tinggi sekali. Kalau kita diam saja dan tidak melakukan percepatan produksi, gap tersebut akan menjadi jauh lebih besar lagi di masa depan,” pungkasnya. (H-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *