
BERSAMAAN dengan momentum Hari Santri Nasional, sebanyak 1.030 peserta didik bersama guru dan pegawai Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Blora menggelar salat istisqa untuk memohon turunnya hujan. Aksi religi ini dilakukan mengingat wilayah di ujung timur Jawa Tengah tersebut hingga kini masih dilanda bencana kekeringan yang cukup parah.
Berdasarkan pemantauan pada Kamis (22/10), perayaan Hari Santri Nasional di Kabupaten Blora kali ini tampak berbeda dibandingkan daerah lain di Jawa Tengah. Para santri di MAN Blora tidak hanya menggelar upacara bendera di lapangan atau pawai keliling kota, tetapi memilih melaksanakan kegiatan positif berupa salat permintaan hujan.
Kemarau panjang yang berlangsung sejak Juni lalu telah mengakibatkan bencana kekeringan di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Blora. Tercatat setidaknya 160 desa di 15 kecamatan terdampak, yang menyebabkan 46.245 keluarga mengalami krisis air bersih dan bergantung pada bantuan setiap harinya.
“Salat istisqa yang digelar bertepatan dengan Hari Santri Nasional ini merupakan bentuk ikhtiar bersama menghadapi kondisi kekeringan yang masih dirasakan masyarakat,” ujar Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) MAN Blora, Agus Budi Mulyono, Kamis (22/10).
Agus menjelaskan bahwa kesulitan mendapatkan air bersih menjadi alasan utama MAN Blora mengajak seluruh keluarga besar madrasah untuk berdoa bersama. Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi dengan apel, dilanjutkan salat duha, dan ditutup dengan salat istisqa.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh unsur keluarga besar sekolah, mulai dari peserta didik, guru, hingga pegawai madrasah dengan total mencapai 1.030 orang. “Jumlah itu diperkirakan bertambah dengan adanya warga sekitar yang ikut bergabung untuk berdoa bersama,” tambahnya.
Melalui salat istisqa ini, diharapkan kondisi sulit akibat kemarau segera berubah menjadi lebih baik dengan turunnya hujan. Hal ini penting agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan air sehari-hari dengan lebih mudah.
“Kekeringan ini tidak hanya dirasakan warga yang kekurangan air bersih, tetapi juga para petani yang sulit bercocok tanam karena lahan mereka kering kerontang akibat kekurangan air,” pungkas Agus. (H-2)
