Kekeringan di Jateng Berlangsung hingga 172 Hari, BMKG Prediksi Hujan Meningkat pada November
Kekeringan di Jateng.(MI/Lilik Darmawan)

KEKERINGAN meteorologis masih melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah dengan periode tanpa hujan lebih dari lima bulan. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga 20 Oktober 2026, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, mencatat hari tanpa hujan (HTH) terpanjang, yakni 172 hari.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto mengatakan, selain Purworejo, sejumlah daerah lain juga mengalami periode tanpa hujan yang panjang. Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, mencatat 170 hari tanpa hujan, disusul Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, dan Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, yang masing-masing mencapai 157 hari.

“Periode tanpa hujan lebih dari 60 hari tersebar di hampir seluruh wilayah Jawa Tengah. Kategori sangat panjang mendominasi wilayah selatan, sedangkan periode tanpa hujan selama 21–30 hari terpantau di sejumlah titik di wilayah timur dan Kabupaten Brebes,” jelasnya, Kamis (22/10).

Goeroeh menambahkan, kategori menengah, yakni 11–20 hari tanpa hujan, tersebar di berbagai wilayah. Sementara itu, periode tanpa hujan selama 6–10 hari mendominasi wilayah utara, sedangkan kategori pendek, yakni 1–5 hari, terpantau di sejumlah titik di wilayah tengah.

Meski kekeringan masih meluas, status peringatan dini kekeringan meteorologis pada dasarian ketiga Oktober atau periode 21–31 Oktober 2026 menunjukkan penurunan. BMKG tidak lagi menetapkan status Siaga maupun Awas di kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Status tertinggi yang berlaku saat ini adalah Waspada.

“Status tertinggi adalah Waspada, selebihnya tidak ada peringatan,” kata Goeroeh.

Wilayah berstatus Waspada meliputi Kota Tegal, Kota Pekalongan, dan Kota Semarang. Sementara itu, kabupaten yang masuk kategori tersebut adalah Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Temanggung, Semarang, Demak, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Grobogan, Blora, Boyolali, Klaten, Kebumen, Purworejo, dan Wonogiri.

Curah Hujan Masih Rendah hingga Akhir Oktober

Hasil analisis BMKG terhadap curah hujan pada dasarian kedua Oktober, yakni periode 11–20 Oktober 2026, menunjukkan seluruh wilayah Jawa Tengah mengalami curah hujan kategori rendah, berkisar 0–50 milimeter per dasarian.

Hujan masih tercatat hingga pembaruan terakhir pada 20 Oktober di Kabupaten Banyumas. Namun, secara umum, peluang hujan di sebagian besar wilayah Jawa Tengah pada akhir Oktober diperkirakan masih terbatas.

Berdasarkan prediksi deterministik yang diperbarui pada 18 Oktober 2026, sebagian besar wilayah Jawa Tengah diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah pada dasarian ketiga Oktober. Pengecualian diperkirakan terjadi di kawasan Pegunungan Slamet hingga Dieng dan sekitarnya, yang berpeluang menerima curah hujan kategori menengah, yakni 51–150 milimeter per dasarian.

Prediksi probabilistik BMKG juga menunjukkan hampir seluruh wilayah Jawa Tengah berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter pada periode tersebut. Peluang curah hujan yang lebih tinggi diprakirakan terjadi di kawasan Pegunungan Slamet hingga Dieng dan sekitarnya.

Peluang Hujan Meningkat pada November

BMKG memprakirakan peluang hujan di Jawa Tengah meningkat pada November 2026. Pada dasarian pertama dan kedua November, sebagian besar wilayah diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah.

Sejumlah daerah bahkan berpeluang menerima curah hujan kategori tinggi, yakni 151–200 milimeter per dasarian. Wilayah tersebut meliputi bagian utara Kabupaten Banyumas dan Purbalingga serta bagian selatan Kabupaten Batang.

“Peluang hujan dengan intensitas tinggi diprakirakan semakin meluas pada dasarian ketiga November. Sebagian besar wilayah Purbalingga, Banjarnegara, bagian utara Banyumas, dan sejumlah daerah lainnya berpotensi menerima curah hujan 151–300 milimeter per dasarian,” jelas Goeroeh. (LD/P-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *