
AKTOR Iswadi Pratama menjadi sorotan setelah berhasil menghadirkan teror psikologis yang intens melalui perannya sebagai Mata Merah dalam film Laut Bercerita. Penampilan memukaunya tersebut menuai perhatian saat gala perdana film yang berlangsung di bioskop kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (22/10).
Dalam kesempatan tersebut, Iswadi memberikan ulasan filosofis mendalam mengenai dimensi kejiwaan karakter Mata Merah. Ia membuka pemaparannya dengan mengutip pemikiran Bertrand Russell tentang ironi peradaban, di mana orang bodoh seringkali merasa sangat yakin, sementara orang pintar justru diliputi keragu-raguan.
Iswadi menjelaskan bahwa karakter Mata Merah merupakan simbol kekejaman sebuah rezim dan pengingat akan bahaya laten otoritarianisme. Untuk menghidupkan peran tersebut, ia membedah penokohannya melalui konsep psikologi nekrofilia, sebuah gangguan mental yang merujuk pada hasrat terhadap kematian dan pemusnahan.
“Saya harus meruntuhkan rasa kemanusiaan sendiri guna menyelami bagaimana seorang manusia bisa merasa menang dan divalidasi eksistensi hidupnya hanya dengan cara menyiksa dan mematikan orang lain,” ujar Iswadi.
Meski memerankan karakter yang kelam, Iswadi menegaskan bahwa film ini membawa pesan optimisme. Ia mengibaratkan kegelapan hanyalah kondisi di mana cahaya tidak hadir, dan film Laut Bercerita hadir sebagai salah satu cahaya tersebut.
Detail Produksi dan Refleksi Kemanusiaan
Rumah produksi Pal8 Pictures menggelar konferensi pers perdana ini setelah film Laut Bercerita sukses tampil di Busan International Film Festival, Korea Selatan. Acara ini menjadi ruang refleksi mengenai sejarah pergerakan mahasiswa era 90-an dan nilai kemanusiaan universal.
| Informasi Film | Keterangan |
|---|---|
| Judul Film | Laut Bercerita |
| Adaptasi | Novel karya Leila S. Chudori |
| Rumah Produksi | Pal8 Pictures |
| Pemeran Utama | Reza Rahadian (Biru Laut), Iswadi Pratama (Mata Merah) |
| Festival Internasional | Busan International Film Festival (BIFF) |
Produser Budi Setyarso menekankan bahwa inti dari cerita ini adalah tentang manusia dan keluarga. Menurutnya, narasi kemanusiaan dalam kisah keluarga Laut tidak mengenal batas geografis maupun waktu.
Senada dengan hal tersebut, pemeran Biru Laut, Reza Rahadian, menyoroti relevansi pergerakan era 90-an dengan masa kini. Ia percaya bahwa harapan adalah aset paling berharga yang harus dipegang teguh.
“Film ini turut menggemakan harapan-harapan tersebut. Sebuah harapan pada kekuatan suara-suara anak muda, serta harapan pada bagaimana sikap kritis mereka dalam melakukan berbagai macam hal,” pungkas Reza. (Ant/Z-1)
