Circadian Depression: Subtipe Depresi Baru yang Berkaitan dengan Pola Tidur
Ilustrasi(Magnific)

PENELITI dari University of Sydney mengidentifikasi subtipe depresi baru bernama circadian depression. Kondisi ini berkaitan dengan jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun.

Penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Psychiatry pada 2026 menganalisis data klinis dan genetik lebih dari 10.000 warga Australia dengan depresi. Sebanyak 2.604 peserta atau hampir 25% teridentifikasi memiliki circadian depression.

Penulis pertama penelitian, Dr Emiliana Tonini, mengatakan pemahaman terhadap subtipe depresi dapat membantu pasien memperoleh penanganan yang lebih sesuai sejak awal.

“Depresi bukanlah penyakit yang seragam. Memahami karakteristik berbagai subtipe berarti kita dapat memberikan akses lebih awal kepada pasien terhadap penanganan yang paling efektif bagi mereka,” ujar Tonini.

Gejala Circadian Depression

Menurut penelitian tersebut, circadian depression dapat ditandai dengan pola depresi yang mengikuti perubahan musim, durasi tidur lebih panjang saat mengalami depresi, serta rasa lelah saat bangun tidur. Penderitanya juga cenderung memiliki kebiasaan tidur larut malam atau dikenal sebagai night owl.

Peserta dengan subtipe ini cenderung mengalami depresi pada usia lebih muda dan menunjukkan gejala lebih berat, termasuk mania serta tingkat pikiran untuk bunuh diri yang lebih tinggi.

Peneliti juga menemukan risiko genetik lebih tinggi terhadap masalah peradangan, penyakit kardiovaskular, dan gangguan perkembangan saraf, termasuk ADHD.

Penanganan yang Menargetkan Jam Biologis

Penelitian menemukan antidepresan kelompok SSRI dan SNRI cenderung kurang efektif pada peserta dengan circadian depression. Terapi yang menargetkan ritme sirkadian, seperti terapi cahaya dan melatonin, berpotensi menjadi pilihan yang lebih sesuai bagi sebagian pasien.

Dr Jacob Crouse, salah satu penulis senior penelitian, mengatakan penanganan yang menargetkan jam biologis dapat dipertimbangkan lebih awal bagi pasien dengan karakteristik tersebut.

“Karena circadian depression berkaitan dengan jam biologis internal seseorang, penanganan yang menargetkan ritme sirkadian, seperti terapi cahaya dan melatonin, mungkin jauh lebih relevan,” kata Crouse.

Dr Jacob juga menyarankan pasien berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila antidepresan yang digunakan tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Pentingnya Mengenali Circadian Depression

Profesor Ian Hickie, psikiater sekaligus salah satu direktur Brain and Mind Centre, menekankan pentingnya mengenali circadian depression pada kelompok usia muda. Menurutnya, kondisi yang tidak dikenali sejak awal dapat berkontribusi terhadap kegagalan penanganan dan meningkatkan risiko efek samping.

Hickie menjelaskan sebagian besar anak muda dengan depresi biasanya ditawari antidepresan SSRI sebagai pilihan awal. Namun, sebagian pasien mungkin membutuhkan pendekatan lain yang menargetkan ritme biologis tubuh.

Penelitian ini memberikan pemahaman lebih lanjut mengenai perbedaan karakteristik depresi dan respons terhadap pengobatan. Peneliti berharap temuan circadian depression dapat membantu tenaga kesehatan menentukan pendekatan yang lebih sesuai bagi pasien. (The University of Sydney/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *