
EKSPOR minyak negara-negara Teluk melampaui level sebelum perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, meski serangan terhadap kapal di Selat Hormuz meningkat.
Minyak mengalir melalui Selat Hormuz, jaringan pipa negara-negara Teluk, dan jalur alternatif lainnya pada pekan lalu. Total ekspor mencapai 24,6 juta barel per hari, melampaui rata-rata sebelum perang sebesar 23,3 juta barel per hari, menurut perusahaan pelacak maritim Kpler.
Data awal menunjukkan rata-rata sekitar 14 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman. Angka itu setara dengan sekitar 82% dari volume sebelum perang.
Peningkatan ekspor itu menunjukkan negara-negara produsen minyak di kawasan tersebut mulai mengandalkan jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Iran yang berupaya memperkuat kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Peningkatan lalu lintas kapal itu terjadi meski Oktober menjadi bulan dengan serangan paling intens di Selat Hormuz sejak Maret. Sedikitnya 30 kapal telah diserang hingga saat ini, menurut Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) dan sejumlah perusahaan pelacak maritim.
Menurut UKMTO, sedikitnya 12 serangan terhadap kapal terjadi di Selat Hormuz pada pekan lalu. Sebuah kapal kontainer bermuatan penuh milik Arab juga tenggelam setelah diduga terkena proyektil.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. Gangguan pelayaran di kawasan itu meningkatkan risiko distribusi energi, biaya pengiriman, dan tekanan terhadap harga minyak.
Alihkan Jalur Pengiriman
Untuk menjaga kelancaran ekspor, negara-negara Teluk menggunakan metode pemindahan minyak antarkapal atau ship-to-ship transfer. Kapal berukuran lebih kecil memasuki kawasan Teluk untuk mengangkut minyak mentah, kemudian memindahkannya ke kapal tanker raksasa atau very large crude carriers (VLCC) yang menunggu di luar selat.
Sejumlah negara juga mengandalkan kapal berbendera nasional untuk mengangkut minyak. Langkah ini diambil di tengah kenaikan biaya asuransi dan kekhawatiran perusahaan pelayaran swasta terhadap keselamatan kapal.
Arab Saudi turut meningkatkan pengiriman minyak melalui Laut Merah. Sebelumnya, kerajaan itu mengirim minyak ke pasar Asia melalui Selat Bab el-Mandeb di dekat Yaman.
Namun, setelah kelompok Houthi menyatakan embargo terhadap kapal-kapal Saudi, Riyadh memanfaatkan jalur pipa alternatif menuju Laut Tengah melalui Mesir.
Meski ekspor minyak secara keseluruhan meningkat, pengiriman melalui Selat Hormuz masih lebih dari sepertiga di bawah tingkat sebelum perang, menurut data Kpler. Artinya, gangguan yang ditimbulkan konflik masih membatasi lalu lintas kapal, tetapi jalur alternatif mulai mengurangi pengaruh Iran terhadap distribusi minyak.
Kpler memperkirakan sekitar 40% minyak mentah non-Iran yang dikirim dari kawasan Teluk pada September melewati jalur di luar Selat Hormuz. Sebelum perang, proporsinya hanya 17%.
Negara-negara Timur Tengah juga mulai mempertimbangkan jalur alternatif permanen. Irak, produsen minyak terbesar kedua di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), menandatangani kesepakatan dengan Suriah pada Juli untuk memperbaiki jaringan pipa dari ladang minyak di Irak utara menuju pesisir Laut Tengah di Suriah.
Proyek tersebut berpotensi menyediakan jalur tambahan bagi ekspor minyak Irak tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Harga Mminyak tetap Tinggi
Kenaikan volume ekspor belum menurunkan tekanan harga energi. Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, masih berada di kisaran US$109 per barel. Dengan asumsi kurs Rp17.934 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp1,96 juta per barel.
Harga produk olahan minyak, terutama solar, juga meningkat. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan tarif angkutan laut.
Pengalihan rute membuat kapal harus menempuh perjalanan lebih panjang. Permintaan terhadap kapal tanker meningkat, sementara ketersediaan armada untuk melayani rute-rute tersebut menjadi lebih terbatas. (Middle East Eye/New York Post/B-3)
