
DINAS Bina Marga DKI Jakarta mengajak generasi muda mengangkat kehidupan dan pembangunan Ibu Kota melalui film pendek. Upaya ini dilakukan untuk mendorong kreativitas pelajar dan mahasiswa sekaligus mendukung Jakarta sebagai Kota Sinema.
Ajakan tersebut diwujudkan melalui Kontes Film Pendek Dinas Bina Marga 2026 bertema Jakarta dalam Setiap Langkah, Semua Berawal dari Sini.
Pemenang kontes diumumkan dan menerima penghargaan di Aula Annex Gedung Dinas Teknis Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (22/10).
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pemuda dan Olahraga, Dicky Budi Ramadhan, mengapresiasi inisiatif tersebut.
Menurut dia, Dinas Bina Marga menjadi salah satu perangkat daerah yang memanfaatkan film sebagai sarana promosi karya kreatif sekaligus memperkenalkan pembangunan infrastruktur kepada masyarakat.
“Kenapa trotoar itu banyak dipilih tempatnya, kenapa Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) banyak dipilih? Karena memang itu adalah tempat untuk semuanya bermula. Kehidupan bermula dari trotoar, kehidupan bisa disambungkan dengan JPO,” kata Dicky.
Ia menilai trotoar dan JPO bukan sekadar fasilitas mobilitas, melainkan ruang yang mempertemukan masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Jakarta.
Dicky berharap kontes tersebut dapat mendorong perangkat daerah lain untuk ikut mendukung industri kreatif, khususnya subsektor film.
Keterlibatan pelajar dan mahasiswa dinilai dapat memperluas jangkauan promosi pembangunan melalui karya yang dekat dengan masyarakat.
Sementara, Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Heru Suwondo, mengatakan kontes film pendek merupakan salah satu cara melibatkan generasi muda di luar tugas utama dinas dalam membangun dan memelihara infrastruktur jalan, jembatan, serta fasilitas pendukungnya.
Menurut Heru, pembangunan Jakarta tidak cukup hanya mengandalkan perubahan fisik. Kota ini juga perlu memperkuat identitas dan mengangkat cerita kehidupan masyarakat, terlebih dalam persiapan menuju kota global dan menyambut lima abad Jakarta.
“Sebagai insan Bina Marga, kami setiap hari bekerja membangun dan memelihara infrastruktur yang mendukung mobilitas masyarakat. Namun, di balik jalan, trotoar, dan penerangan jalan, ada kehidupan yang berlangsung, ada interaksi masyarakat, dan ada cerita tentang Jakarta yang sering kali luput dari perhatian. Kami ingin cerita-cerita itu juga hadir melalui film,” ujarnya.
Heru berharap generasi muda dapat menghadirkan perspektif baru dalam memaknai infrastruktur sebagai bagian dari kehidupan kota. Melalui film, pembangunan Jakarta diharapkan tidak hanya terlihat dari bentuk fisik, tetapi juga dari aktivitas dan interaksi masyarakat yang berlangsung di dalamnya.
Kontes ini diikuti 69 peserta dari wilayah Jabodetabek. Setelah kurasi, sebanyak 43 karya dinyatakan lolos dan 15 karya masuk nominasi, terdiri atas 10 karya kategori pelajar SMA/SMK/MA sederajat dan lima karya kategori mahasiswa.
Pada kategori pelajar, juara pertama diraih SMA Avicenna Cinere, Depok, melalui film Sampai ke Seberang. Juara kedua diraih Cinematography SMAN 33 Jakarta dengan film Elegi, sedangkan juara ketiga diraih Polaris dari SMA Labschool Bintaro melalui film Larik-larik Jakarta.
Sementara itu, kategori mahasiswa dimenangi Americano dari Akademi Komunikasi Media Radio & TV Jakarta melalui film Satu Langkah Pasti. Juara kedua diraih Jakarta Explorer dari Jakarta International University dengan film Mulai Dari Sini, sedangkan juara ketiga diraih Sigma TV Universitas Negeri Jakarta melalui film Ncep!!!.
Para pemenang menerima hadiah uang tunai, dengan rincian Rp15 juta untuk juara pertama, Rp12 juta untuk juara kedua, dan Rp10 juta untuk juara ketiga pada masing-masing kategori. Pemenang juga memperoleh plakat dan sertifikat, sedangkan peserta yang masuk nominasi menerima sertifikat penghargaan.
Penjurian melibatkan tiga insan perfilman, yakni produser sekaligus Direktur Jakarta Film Week Rina Damayanti, produser dan sutradara Rubby Karno, serta sutradara, penulis skenario, dan produser Andi Bachtiar Yusuf. Keterlibatan para profesional perfilman tersebut diharapkan menjaga kualitas karya sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitasnya. (E-4)
