
Kerangka dinosaurus langka Nanotyrannus dipamerkan di kantor pusat rumah lelang Sotheby’s di Manhattan, New York, Amerika Serikat, menjelang pelelangan pada 27 Oktober 2026. Fosil yang dijuluki Jodi itu menjadi sorotan karena merupakan salah satu dari hanya tiga kerangka Nanotyrannus yang diketahui hingga saat ini.
Sekilas, fosil tersebut menyerupai Tyrannosaurus rex (T. rex) berukuran kecil dengan rahang terbuka dan deretan gigi tajam. Namun, proporsi lengan dan kakinya yang lebih panjang menjadi salah satu ciri pembeda kedua dinosaurus tersebut.
Nanotyrannus merupakan predator yang lebih kecil dan lincah dibandingkan T. rex. Kerangka Jodi memiliki tinggi sekitar 2 meter dan panjang hampir 6 meter. Sotheby’s menyebut fosil itu sebagai kerangka Nanotyrannus terbaik dan terlengkap yang tersedia untuk dijual, dengan tingkat kelengkapan hampir 70 persen.
Wakil Ketua Sotheby’s Cassandra Hatton mengatakan keberadaan Nanotyrannus memberikan perspektif baru mengenai ekosistem pada periode Cretaceous, sekitar 67 juta tahun lalu, ketika dinosaurus tersebut hidup berdampingan dengan T. rex.
“Yang benar-benar menarik adalah bahwa sampai mereka membuktikan keberadaan genus ini, kita mengira bahwa T. rex adalah satu-satunya predator puncak di periode Cretaceous. Sekarang kita tahu bahwa mereka hidup berdampingan,” kata Hatton.
Selama puluhan tahun, para ilmuwan memperdebatkan apakah Nanotyrannus merupakan spesies dinosaurus tersendiri atau hanya T. rex yang masih muda. Perdebatan tersebut bermula dari penemuan tengkorak yang dikenal sebagai Cleveland Skull pada 1942.
Penelitian yang dipublikasikan pada Oktober 2025 menyimpulkan bahwa Nanotyrannus merupakan genus berbeda. Kesimpulan itu didasarkan, antara lain, pada pemeriksaan cincin pertumbuhan di dalam tulang fosil yang menunjukkan bahwa individu tersebut telah mencapai usia dewasa, bukan masih dalam tahap pertumbuhan.
Selain ukuran tubuh, Nanotyrannus memiliki lebih banyak gigi dengan bentuk lebih ramping menyerupai pisau. Sebaliknya, gigi T. rex lebih tebal. Nanotyrannus juga memiliki tungkai depan lebih panjang dan cakar tangan lebih besar dibandingkan T. rex.
Hatton menggambarkan perbedaan kedua predator itu seperti singa dan cheetah yang hidup pada masa sama, tetapi berburu mangsa berbeda.
Fosil Jodi ditemukan oleh peternak Montana, Jodi Pierson, di lahannya pada 2019. Proses penemuan dan penggaliannya kemudian menjadi bagian dari serial dokumenter Discovery Channel berjudul *Dino Hunters* pada 2020.
Dua kerangka Nanotyrannus lainnya diketahui berada di institusi publik. Salah satunya, yang dijuluki Bloody Mary, ditemukan pada 2006 bersama fosil Triceratops dalam spesimen yang dikenal sebagai Dueling Dinosaurs. Fosil tersebut disimpan di North Carolina Museum of Natural Sciences dan tidak dijual. Kerangka lainnya berada di Burpee Museum of Natural History di Illinois.
Rencana pelelangan Jodi menuai keberatan dari kalangan ilmuwan. Society of Vertebrate Paleontology meminta fosil penting seperti itu ditempatkan di museum atau lembaga penelitian agar dapat diakses untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan publik.
Presiden Society of Vertebrate Paleontology sekaligus profesor biologi California State University, San Bernardino, Stuart Sumida, menolak argumen bahwa penjualan privat diperlukan untuk mendukung penelitian paleontologi.
“Tidak ada penelitian ilmiah yang ditelaah sejawat yang dapat dipublikasikan berdasarkan spesimen yang tidak berada dalam pengelolaan publik,” kata Sumida.
Ia memperingatkan bahwa fosil yang sudah berada di tangan kolektor privat berisiko tidak dapat diteliti secara luas dan tidak lagi bisa dilihat oleh generasi mendatang.
Di sisi lain, Hatton berpendapat pemburu fosil profesional berperan penting dalam penemuan dan pelestarian spesimen dinosaurus. Menurut dia, keterbatasan universitas dan museum dalam melakukan penggalian membuat kontribusi pihak swasta tetap dibutuhkan.
Pelelangan Jodi berlangsung setelah Sotheby’s menjual fosil T. rex dengan harga rekor US$50,1 juta pada musim panas 2026. Kontroversi terbaru ini kembali menyoroti perdebatan antara perdagangan fosil secara privat dan kebutuhan menjaga akses publik terhadap temuan penting bagi ilmu pengetahuan.
Sumber: New York Post
