
Jauh sebelum teleskop modern dan komputer digunakan untuk menghitung pergerakan benda langit, astronom Muslim bernama Al-Battani telah melakukan pengamatan astronomi selama puluhan tahun. Melalui pengamatan tersebut, ia berhasil memperbaiki perhitungan panjang tahun tropis menjadi 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.
Al-Battani merupakan astronom dan matematikawan yang hidup sekitar 850–929 M. Ia dikenal di Eropa dengan nama Albategnius. Kontribusinya dalam astronomi tercatat dalam Kitab al-Zij, karya yang memuat hasil pengamatan serta tabel perhitungan posisi dan pergerakan benda langit.
Menurut MacTutor History of Mathematics dari University of St Andrews, Al-Battani melakukan pengamatan astronomi di wilayah ar-Raqqah dan Antiokhia, Suriah. Catatan sejarah menyebutkan pengamatannya berlangsung sekitar 877 hingga 918 M.
Mengoreksi Perhitungan Astronomi Sebelumnya
Salah satu kontribusi Al-Battani adalah memperbaiki nilai panjang tahun tropis, yaitu periode yang berkaitan dengan siklus musim dan pergantian posisi Matahari terhadap ekuinoks. Perhitungan ini penting untuk memahami perubahan musim dan menyusun sistem penanggalan berbasis Matahari.
Dalam Kitab al-Zij, Al-Battani mencatat panjang tahun tropis sebesar 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Angka tersebut menunjukkan upayanya menghasilkan perhitungan yang lebih akurat dibandingkan sejumlah nilai astronomi yang digunakan sebelumnya.
Pengamatan Al-Battani tidak hanya membahas panjang tahun. Ia juga meneliti posisi Matahari dan Bulan, pergerakan planet, serta kemiringan bidang ekliptika, yakni bidang semu lintasan tahunan Matahari di langit jika diamati dari Bumi.
Menggabungkan Pengamatan dan Matematika
Keunggulan Al-Battani terletak pada penggunaan hasil pengamatan untuk memperbaiki perhitungan astronomi. Ia mengembangkan penggunaan trigonometri dalam penyelesaian persoalan astronomi, termasuk perhitungan yang sebelumnya banyak menggunakan pendekatan geometris.
Kitab al-Zij terdiri atas 57 bab yang membahas berbagai persoalan astronomi dan dilengkapi tabel perhitungan. Karya tersebut juga memuat data pengamatan Al-Battani sendiri, sehingga dapat digunakan untuk mempelajari posisi serta pergerakan benda langit.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa perkembangan astronomi pada masa itu tidak hanya bergantung pada pemikiran teoritis, tetapi juga pada pengamatan yang dilakukan secara berulang dan pencatatan hasilnya.
Karyanya Dipelajari Astronom Eropa
Pengaruh Al-Battani berlanjut setelah masa hidupnya. Karya astronominya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Plato dari Tivoli pada 1116 dengan judul De motu stellarum.
Menurut MacTutor History of Mathematics, pemikiran dan hasil perhitungannya kemudian berpengaruh terhadap sejumlah astronom Eropa, termasuk Nicolaus Copernicus, Tycho Brahe, Johannes Kepler, dan Galileo Galilei.
Warisan Al-Battani menunjukkan peran penting ilmuwan dari dunia Islam dalam perkembangan ilmu astronomi. Melalui pengamatan panjang, perhitungan matematis, dan pencatatan sistematis, ia membantu menyempurnakan pemahaman manusia tentang pergerakan benda langit.
Sumber: MacTutor History of Mathematics, University of St Andrews, Max Planck Institute for the History of Science
