
PLATFORM perdagangan aset digital FLOQ membidik perluasan pasar kripto ke kelompok usia dewasa melalui penjajakan integrasi layanan dengan ekosistem digital Telkomsel. Langkah ini dilakukan di tengah dominasi investor berusia di bawah 30 tahun, sekaligus meningkatnya kebutuhan edukasi risiko dan perlindungan konsumen dalam perdagangan aset digital.
CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan mayoritas pengguna aset digital di Indonesia masih berasal dari kelompok usia muda yang melakukan transaksi secara mandiri melalui platform digital. Menurutnya, industri perlu menjangkau kelompok usia yang lebih matang untuk mendorong pertumbuhan pasar yang berkelanjutan.
“Di banyak negara lain, profil pengguna aset digital sudah lebih dewasa dan mature. Karena itu, tantangan industri saat ini adalah bagaimana menjangkau segmen tersebut dengan tetap mengedepankan edukasi dan literasi risiko,” ujar Yudhono di Jakarta, Kamis (22/10).
Untuk memperluas jangkauan tersebut, FLOQ menjajaki integrasi layanan aset digital ke dalam aplikasi yang dikembangkan Telkomsel bagi pelanggan. Kerja sama yang dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) pada 22 Oktober 2026 itu juga mencakup pengembangan konsep Mini Trade bagi pengguna pemula dan potensi pemanfaatan Telkomsel POIN untuk saldo atau voucher terkait layanan FLOQ.
Yudhono menjelaskan, pemanfaatan ekosistem digital yang telah digunakan masyarakat sehari-hari berpotensi membuka akses terhadap aset digital secara lebih luas. Namun, perluasan akses tersebut harus disertai pemahaman mengenai karakteristik produk dan risiko transaksi.
“Kolaborasi ini bertujuan menjajaki bagaimana akses aset digital yang teregulasi dapat semakin terhubung dengan layanan digital yang digunakan masyarakat Indonesia setiap hari. Telkomsel memiliki jangkauan yang luar biasa dan ekosistem yang kuat, sementara FLOQ menghadirkan infrastruktur, kapabilitas produk, serta edukasi yang dibutuhkan agar aset digital lebih mudah diakses dan dipahami,” katanya.
Integrasi Layanan Bergantung pada Persetujuan Regulator
Meski membuka peluang perluasan pasar, rencana integrasi layanan FLOQ dan Telkomsel belum dapat direalisasikan secara komersial karena masih memerlukan kajian teknis serta pemenuhan ketentuan regulator.
Manager Channel Sales Planning & Development Telkomsel, Ahmad Fahreza, menegaskan bahwa keamanan transaksi dan kepatuhan terhadap regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi syarat utama sebelum layanan dapat diperkenalkan kepada pelanggan.
“Hal paling krusial bukan sekadar menghadirkan kemudahan akses (user experience), melainkan memastikan adanya jaminan keamanan serta kepatuhan terhadap aturan yang berlaku sebelum layanan dapat digulirkan secara luas kepada publik,” tegas Fahreza.
Menurutnya, proses perizinan dan notifikasi kepada OJK menjadi bagian dari tahapan yang harus dipenuhi sebelum peluncuran fitur komersial. Kajian integrasi teknis dan edukasi publik direncanakan berlangsung secara bertahap hingga 2027.
Sementara itu, Chief Sales Officer Telkomsel, Stanislaus Susatyo, mengatakan penjajakan ini diarahkan untuk memperluas akses pelanggan terhadap layanan digital yang relevan melalui ekosistem Telkomsel.
“Bersama FLOQ, kami menjajaki integrasi yang mulus agar layanan FLOQ lebih mudah diakses pelanggan melalui ekosistem digital Telkomsel, sehingga menghadirkan manfaat yang berarti bagi pelanggan dan masyarakat di seluruh Indonesia,” ujar Stanislaus.
Saat ini, FLOQ mencatat lebih dari 1,8 juta pengguna terdaftar, 2 juta unduhan aplikasi, serta menyediakan akses terhadap lebih dari 100 aset digital. Adapun Telkomsel memiliki lebih dari 153,5 juta pelanggan hingga semester I 2026. (Z-10)
