
PENGEMBANGAN kawasan keuangan khusus menjadi salah satu strategi untuk menarik investasi internasional melalui pemberian insentif perpajakan, kemudahan berusaha, dan kepastian hukum. Salah satu kawasan investasi baru di Kirgizstan, Asia Tengah, berhasil memperoleh pengakuan internasional berkat strategi pengembangan dan fasilitas yang ditawarkan kepada investor.
Kawasan Investasi Keuangan Khusus Tamchy (Tamchy Special Financial Investment Territory/SFIT) meraih peringkat pertama di kawasan Asia Pasifik dan kedua dunia dalam kategori Rising Star pada ajang Global Free Zones of the Year Awards 2026 yang diselenggarakan fDi Intelligence, divisi Financial Times yang berfokus pada investasi asing langsung.
Penghargaan tersebut menempatkan Tamchy SFIT sebagai pusat keuangan pertama dari Asia Tengah yang memperoleh pengakuan dalam kategori tersebut. Kategori Rising Star ditujukan bagi kawasan bebas yang baru berdiri dengan mempertimbangkan potensi pengembangan, indikasi awal minat investor, serta keunggulan strategis yang ditawarkan.
Dalam penilaiannya, dewan juri menyoroti strategi jangka panjang Tamchy SFIT untuk menarik perusahaan dari sejumlah sektor prioritas. Paket insentif investasi yang ditawarkan juga menjadi salah satu faktor yang memperoleh perhatian.
Salah satu insentif utama adalah pembebasan pajak penghasilan badan selama 49 tahun. Rezim perpajakan khusus tersebut juga mencakup tarif nol persen atas dividen, keuntungan modal (capital gain), dan pajak pertambahan nilai (PPN), serta fasilitas repatriasi laba tanpa pembatasan. Selain itu, kawasan tersebut memungkinkan kepemilikan asing hingga 100 persen.
Wakil Ketua Pertama Management Council Tamchy SFIT, Ayaz Baetov, mengatakan pencapaian tersebut menjadi pengakuan internasional terhadap arah pengembangan kawasan keuangan yang masih berada pada tahap awal.
“Menempati peringkat pertama di Asia Pasifik dan kedua di dunia pada tahap yang begitu awal dalam pengembangan Tamchy SFIT merupakan pengakuan internasional yang penting atas visi kami,” ujar Baetov dalam keterangannya, Senin (19/10).
Menurutnya, pengembangan kawasan tersebut diarahkan untuk membangun yurisdiksi keuangan yang menggabungkan kepastian hukum internasional dengan fleksibilitas regulasi dan dukungan teknologi digital.
“Kami sedang membangun yurisdiksi keuangan generasi baru yang memadukan kepastian praktik hukum internasional yang telah mapan dengan kecepatan, fleksibilitas, dan infrastruktur digital yang semakin diharapkan oleh pelaku usaha global,” katanya.
Sistem hukum internasional
Tamchy SFIT dibentuk berdasarkan undang-undang pada Juli 2025 dan diresmikan Presiden Kirgizstan Sadyr Japarov pada 3 Juli 2026. Kawasan tersebut dikembangkan dengan mengadopsi prinsip English Common Law serta memiliki regulator keuangan tersendiri, pusat penyelesaian sengketa internasional (International Dispute Resolution Centre), dan sistem registrasi digital terpadu.
Kerangka tersebut dirancang untuk memberikan kepastian hukum sekaligus menyederhanakan proses administrasi bagi perusahaan internasional yang ingin menjalankan kegiatan usaha di kawasan tersebut.
Tamchy SFIT menargetkan berbagai jenis perusahaan, mulai dari dana investasi, family office, perusahaan induk, dan perusahaan perdagangan internasional, hingga perusahaan teknologi finansial (fintech) serta usaha berbasis inovasi.
Dari sisi infrastruktur, kawasan seluas 6.000 hektare di tepi Danau Issyk-Kul itu dikembangkan sebagai kawasan terpadu yang menggabungkan kegiatan bisnis, hunian, dan fasilitas kebugaran.
Saat ini, sebuah pusat bisnis kelas A telah beroperasi dengan menyediakan ruang perkantoran modern dan fasilitas pertemuan. Lokasinya juga berada dalam jarak berjalan kaki dari Bandara Internasional Issyk-Kul.
Pengembangan infrastruktur masih berlanjut dengan pembangunan lima bangunan tambahan, termasuk pusat bisnis kedua dan dua gedung perkantoran, yang ditargetkan selesai pada akhir 2026.
Targetkan 4.000 perusahaan
Dari sisi investasi, sejumlah perusahaan dari Swiss, Korea Selatan, Hong Kong, Kazakhstan, dan Uni Emirat Arab telah tercatat sebagai penghuni pertama ketika kawasan tersebut diluncurkan.
Selain itu, lebih dari 30 perusahaan lainnya dilaporkan sedang menyelesaikan proses registrasi melalui sistem layanan digital satu pintu yang disediakan pengelola kawasan.
Dalam rencana pengembangan jangka panjang, Tamchy SFIT menargetkan sekitar 4.000 perusahaan penghuni hingga 2035, dengan potensi penciptaan lebih dari 10.000 lapangan kerja.
Secara geografis, kawasan tersebut berada di jalur penghubung ekonomi Eurasia dan memiliki akses terhadap lima negara anggota Uni Ekonomi Eurasia (EAEU).
Melalui kombinasi insentif fiskal, kerangka hukum internasional, dan pembangunan infrastruktur, Tamchy SFIT berupaya menarik perusahaan global untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi kegiatan investasi dan bisnis lintas negara. (E-1)
